Kahawa di Tanah Berkapur

- Penulis

Minggu, 2 September 2018 - 21:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

i

Oleh: Maul Gani
(Jurnalis)

Kapan tanaman Kopi masuk di Kabupaten Muna? Beberapa orang jika dicerca pertanyaan serupa hampir menjawab tidak tahu. Tidak adanya rangkuman cerita dalam catatan sejarah orang Muna memang menjadi soal lain, sebab masyarakat Muna sendiri mengandalkan budaya lisan dalam menurunkan cerita tentang periode masa lampau.

Kendati kopi menjadi minuman yang sangat digemari di berbagai penjuru dunia, tidak membuat masyarakat Muna berpacu dalam mengembangkan budidaya tanaman wilayah tropis ini.

Tentulah Tanah Toraja, Lombok Nusa Tenggara Timur dan Gayo Aceh, lebih dahulu menyadari jika Kopi menjanjikan menjadi lahan bisnis dan menjadi tanaman ikonik, bahkan membawa nama daerah ke Mancanegara, tak heran jika penggila kopi dari belahan dunia rela merogoh kocek sekedar melihat pengolahan kopi tradisional dari daerah tersebut.

Kopi selalu memiliki daya tarik tersendiri, mulai dari penyajian, jenis harga, cara pengolahan hingga atraksi para para barista dalam membuat dan menampilkan kopi terbaik.

Kembali soal waktu, masuknya peradaban Islam di Muna di abad 16 atau sekitar tahun 1542 masehi, dipercaya sebagai cikal bakal masuknya tumbuhan yang oleh masyarakat Muna disebut Kahawa ini. Bukan tanpa alasan, indikator tersebut diperkuat dengan kesamaan nama antara Kahawa yang dikenal masyarakat Muna untuk menyebut Kopi dan ‘qahwa’dalam bahasa Arab yang berarti minuman yang diseduh (diyakini Kopi-red).

Di tanah karst ini, Kopi tumbuh subur, sayangnya hanya menjadi tumbuhan yang tidak terawat apalagi sejak masyarakat Muna disibukkan dengan aktivitas bertani jambu mete.

“Kopi hanya dibiarkan tumbuh, kadang dikonsumsi untuk kebutuhan pribadi saja, sebab sejak lama kahawa tidak sepopuler jambu, harganyapun hampir tidak ada,” ujar La Jaka salah seorang pemilik tanaman kopi.

Baca Juga  Bang EG: Merajut Tenun Sulawesi Tenggara

Kopi Muna ini sepertinya punya ke khasan tersendiri, dari segi aroma maupun cita rasa. Berdasarkan cerita, dahulu, orang Muna memanfaatkan kopi sebagai minuman yang bisa menambah semangat kerja.

Uniknya, kahawa diyakini berjenis robusta jika dilihat dari tekstur buah hingga jenis pohon.

“Nanti, kita coba uji laboratorium dulu untuk memastikan, bisa jadi kopi Muna punya jenis tersendiri,” ujar penggiat tanaman Kopi, Reno Permana.

Meracik kopi.

Reno Permana adalah juri Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018. Datang ke Kabupaten Muna bersama tim mengunjungi Gua Liangkabori, salah satu nominator API 2018. Kategori Situs Sejarah Terpopuler.

Disamping mengecek langsung Liangkobori, Reno bersama Inka Prawirasastra, ingin melihat sisi pariwisata Muna. Mereka mengunjungi Buton, Buton Tengah, Muna, dan Buton Selatan. Kopi juga dianggap sebagai daya tarik daerah selain jualan pariwisatanya.

Tekstur tanah berkapur di wilayah Muna mengindikasikan kahawa memiliki sisi keunikan yang tidak ditemukan dengan kopi yang tumbuh di daerah lain di muka bumi.

Kahawa sendiri umumnya berwarna merah kehitaman pada kulit dan jika telah melalui proses mengupasan, pada biji akan berwarnah hijau, ukurannya juga lebih kecil dan padat dibanding kopi daerah lain.

Ditumbuk adalah salah satu cara penikmat candu ini, mengolah sebelum diseduh air panas, setelah melalui proses sangrai menggunakan kuali di atas tungku.

Bisnis kopi dewasa ini, memang menjadi trending, menjamurnya kedai kopi mengindikasikan, jika pecinta kafein tidak pernah ada habisnya, dari emperan hingga istana negara acara ‘ngopi’ menjadi kegiatan paling diminati. (**)

Facebook Comments

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa Berkoar, Kepentingan Bersembunyi: Menelusuri Arah Sejati GerakanĀ 
Mengantar Generasi Qur’ani: Sebuah Kisah dari Launching AISY dan Wisuda Siswa TK Yurefi Angkatan 6
Fotuno Rete, Surga Air Jernih dari Tanah Muna
Kapal Cepat Tanpa Kelas Ekonomi: Siapa yang Peduli?
Saat Umat Kehilangan ‘Kompas’ Hidup, Tragedi Hilangnya Jiwa Merambah ke Ritual Syirik
Antara Ijazah “Asli” dan Ketidakpercayaan Publik
Duit Mengalir ke Trump, Darah Mengalir di Gaza: Ironi Dunia Arab
Wakatobi, Surga Bawah Laut yang Mulai Tercemar Dosa

Berita Terkait

Sabtu, 12 Juli 2025 - 15:16 WITA

Mahasiswa Berkoar, Kepentingan Bersembunyi: Menelusuri Arah Sejati GerakanĀ 

Minggu, 22 Juni 2025 - 07:07 WITA

Mengantar Generasi Qur’ani: Sebuah Kisah dari Launching AISY dan Wisuda Siswa TK Yurefi Angkatan 6

Kamis, 12 Juni 2025 - 17:16 WITA

Fotuno Rete, Surga Air Jernih dari Tanah Muna

Senin, 9 Juni 2025 - 13:34 WITA

Kapal Cepat Tanpa Kelas Ekonomi: Siapa yang Peduli?

Selasa, 3 Juni 2025 - 07:50 WITA

Saat Umat Kehilangan ‘Kompas’ Hidup, Tragedi Hilangnya Jiwa Merambah ke Ritual Syirik

Berita Terbaru