Wakatobi dikenal sebagai salah satu “surga bawah laut” terbaik dunia. Lautnya yang jernih, terumbu karangnya yang terjaga, serta kekayaan biota lautnya menjadi magnet wisatawan dari berbagai belahan dunia. Sayangnya, keindahan ini tampaknya mulai ternoda bukan oleh limbah industri, melainkan oleh degradasi moral yang tak kalah merusak.
Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh video mesum yang diduga terjadi di sebuah tempat karaoke di Wakatobi. Alih-alih menyoroti perilaku bejat yang terekam, perhatian publik justru lebih tertuju pada si perekam yang kini diduga dilaporkan oleh pelaku. Fenomena ini menandai kegagalan kolektif kita dalam menjaga nilai-nilai moral dan batas-batas kepantasan sosial.
Tempat karaoke dan hiburan malam, yang kini mudah ditemukan bahkan di wilayah-wilayah dengan budaya religius yang kuat, telah menjadi ruang nyaman bagi praktik-praktik menyimpang. Sayangnya, demi alasan ekonomi dan pariwisata, keberadaan mereka acap kali dianggap wajar. Akibatnya, praktik zina dan perilaku menyimpang tak lagi sembunyi, tetapi berlangsung terang-terangan.
Ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Pembangunan sebuah daerah tidak bisa hanya diukur dari angka kunjungan wisata atau laju investasi. Keberhasilan pembangunan juga harus mencakup kualitas moral masyarakat. Wakatobi yang kita banggakan bukan hanya tentang panorama lautnya, tapi juga tentang siapa yang menjaganya.
Negara, dalam hal ini pemerintah daerah maupun pusat, memiliki peran penting dalam menjaga moral publik. Namun faktanya, regulasi kerap longgar terhadap industri hiburan yang secara sistemik membuka celah maksiat. Ruang-ruang sosial yang seharusnya mendidik, justru menjebak. Akibatnya, masyarakat kehilangan kontrol sosial atas apa yang benar dan salah.
Di sinilah kita perlu mengevaluasi ulang arah kebijakan. Apakah pembangunan selama ini benar-benar mengakar pada nilai dan identitas bangsa, atau hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata? Jika tempat-tempat maksiat terus dibiarkan berkembang, maka bukan tidak mungkin keindahan Wakatobi akan berbanding terbalik dengan kualitas moral masyarakatnya.
Dalam Islam, tanggung jawab menjaga kemuliaan dan kesucian masyarakat adalah amanah besar. Negara tidak hanya mengatur urusan duniawi rakyatnya, tetapi juga membina fitrah mereka agar tidak terjerumus pada kehancuran moral. Kesucian masyarakat menjadi indikator keberhasilan pemimpin, bukan sekadar angka pertumbuhan.
Wakatobi adalah aset berharga bangsa. Ia tidak hanya harus dijaga dari pencemaran ekologis, tetapi juga dari pencemaran nilai. Ini bukan soal moral agama semata, tapi tentang masa depan sosial yang sehat dan beradab. Kita tidak ingin surga laut ini menjadi tempat yang indah di permukaan, namun membusuk di dalam.
Sudah saatnya masyarakat dan negara bersinergi membentengi ruang publik dari praktik yang mencemari kehormatan bersama. Pembangunan yang sejati adalah yang menyeimbangkan kemajuan fisik dengan penjagaan nilai-nilai luhur. Hanya dengan cara itulah Wakatobi akan tetap menjadi kebanggaan bukan hanya karena lautnya, tetapi karena masyarakatnya yang menjaga marwahnya. (*)
Penulis: Dr. La Ode Mahmud, M.Si
(Pemerhati isu sosial-politik Islam dan aktif dalam kajian pemikiran keislaman serta menulis opini dan esai yang mengkritisi dinamika sosial dalam perspektif Islam ideologis)







