Mahasiswa Berkoar, Kepentingan Bersembunyi: Menelusuri Arah Sejati Gerakan 

- Penulis

Sabtu, 12 Juli 2025 - 15:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di setiap persimpangan sejarah bangsa, suara mahasiswa selalu identik dengan perubahan. Dari jalanan yang membara hingga mimbar-mimbar demokrasi, mereka selalu hadir sebagai agen kontrol sosial, menyuarakan aspirasi rakyat, dan menuntut keadilan. Slogan-slogan lantang tentang reformasi, antikorupsi, atau keberpihakan pada kaum termarjinalkan selalu menjadi bensin semangat pergerakan. Namun, di tengah-tengah gempita teriakan dan spanduk-spanduk besar itu, sebuah pertanyaan krusial muncul: kemana sebenarnya arah sejati gerakan mahasiswa saat ini?

Kita tidak bisa memungkiri, idealisme masih bersemi di banyak benak mahasiswa. Ada segelintir dari mereka yang tulus berjuang, mengorbankan waktu dan tenaga demi cita-cita mulia. Mereka adalah obor yang masih menyala, mengingatkan kita pada hakikat pendidikan yang tak sekadar mencari gelar, tetapi juga membentuk karakter dan kepedulian sosial.

Namun, realitas seringkali lebih kompleks dan pahit. Di balik koar-koar perjuangan, tak jarang tersembunyi kepentingan-kepentingan yang jauh dari “idealisme murni”. Mahasiswa, yang seharusnya menjadi representasi suara nurani bangsa, terkadang terseret dalam pusaran politik praktis. Aksi-aksi demonstrasi yang masif, dengan tuntutan yang terkesan mulia, bisa jadi hanyalah panggung sandiwara untuk agenda tersembunyi. Posisi strategis dalam organisasi mahasiswa, yang seharusnya menjadi wadah pengabdian, justru dimanfaatkan sebagai batu loncatan karier politik, atau bahkan sebagai alat negosiasi untuk keuntungan pribadi maupun kelompok kelompok elit.

Kita melihat bagaimana isu-isu populis/sensasional seringkali dipetik dan digemakan dengan keras, bukan karena esensi masalahnya yang mendalam, melainkan karena potensi viral dan daya tarik massa yang bisa dimanfaatkan. Isu agraria, isu lingkungan, atau bahkan hak asasi manusia, yang semestinya digarap serius dengan kajian mendalam, kadang hanya menjadi hashtag di media sosial atau tema orasi singkat yang tak berujung pada solusi konkret. Narasi besar perjuangan menjadi samar, tertutup oleh gemuruh kepentingan sesaat.

Tidak jarang kita lihat adalah demonstrasi di depan gedung parlemen/DPR atau kantor pemerintahan. Mahasiswa dengan almamater kebanggaan berdiri tegak, menyampaikan tuntutan dengan suara lantang. Media meliput, opini publik terbelah, dan pemerintah pun mau tidak mau harus memberikan respons. Ini adalah gambaran ideal dari peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Namun, mari kita telaah lebih dalam. Apakah setiap aksi dan setiap tuntutan benar-benar murni berasal dari idealisme dan kepedulian terhadap nasib bangsa? Ataukah ada arus bawah kepentingan tersembunyi yang membelokkan arah gerakan sejati mahasiswa?

Contoh nyata yang seringkali menjadi perdebatan adalah isu-isu yang tiba-tiba muncul dan menghilang seiring dengan perubahan konstelasi politik atau kepentingan tertentu. Sebuah isu yang tadinya gencar diperjuangkan dengan segala daya upaya, tiba-tiba meredup dan menghilang tanpa kejelasan penyelesaian. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah isu tersebut diperjuangkan karena keyakinan mendalam, ataukah hanya menjadi alat taktis untuk mencapai tujuan yang lebih pragmatis dan mungkin terselubung? Kita melihat bagaimana menjelang tahun-tahun politik, misalnya, isu-isu tertentu yang berkaitan dengan kekuasaan atau kelompok kepentingan tertentu seringkali mendapatkan panggung yang lebih besar dalam gerakan mahasiswa.

Selain itu yang dapat kita amati adalah perubahan fokus isu dalam gerakan mahasiswa dari waktu ke waktu. Dahulu, isu-isu yang diangkat cenderung lebih fundamental dan menyentuh akar permasalahan bangsa, seperti korupsi sistemik, ketidakadilan struktural, dan pelanggaran hak asasi manusia. Namun, belakangan ini, kita seringkali melihat isu-isu yang lebih bersifat sektoral, atau bahkan dipolitisasi sedemikian rupa sehingga kehilangan substansi perjuangan yang sebenarnya. Misalnya, isu terkait kebijakan kampus yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui dialog dan mekanisme internal, justru dibesar-besarkan menjadi aksi demonstrasi skala besar dengan tuntutan yang tidak jelas arahnya. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa ada agenda lain yang sedang dimainkan di balik layar.

Lebih jauh lagi, kita tidak bisa menutup mata terhadap fenomena polarisasi ideologi di kalangan mahasiswa. Perbedaan pandangan dan keyakinan adalah hal yang wajar dalam alam demokrasi. Namun, terkadang perbedaan ini dieksploitasi sedemikian rupa sehingga menciptakan fragmentasi dalam gerakan mahasiswa. Alih-alih bersatu padu memperjuangkan kepentingan bersama yang lebih besar, mahasiswa justru terpecah belah dalam kelompok-kelompok kecil yang saling berseberangan, seringkali dipengaruhi oleh kepentingan politik di luar ataupun didalam kampus. Akibatnya, kekuatan moral dan potensi perubahan yang seharusnya dimiliki oleh gerakan mahasiswa menjadi lemah dan tidak efektif.

Baca Juga  Ular Piton 6 Meter Kembali Ditemukan di Bangkali Kabupaten Muna

Akar permasalahan ini bisa ditelusuri dari berbagai faktor. Pertama, kurangnya pemahaman mendalam dan kritis terhadap isu yang diperjuangkan. Banyak mahasiswa yang ikut-ikutan aksi tanpa benar-benar memahami latar belakang, akar masalah, dan implikasi dari tuntutan yang mereka suarakan. Mereka lebih mudah terprovokasi oleh narasi-narasi simplistis dan emosional tanpa melakukan kajian dan analisis yang mendalam. Kedua, lemahnya independensi gerakan mahasiswa. Ketergantungan pada pihak-pihak eksternal, baik secara finansial maupun politis, secara tidak langsung akan memengaruhi arah dan fokus perjuangan. Mahasiswa menjadi rentan untuk didikte dan dimanfaatkan demi kepentingan pihak-pihak tersebut. Ketiga, merosotnya etika dan idealisme di sebagian kalangan mahasiswa. Tekanan untuk segera lulus dan mendapatkan pekerjaan yang mapan terkadang mengalahkan panggilan untuk berjuang demi keadilan dan kebenaran. Pragmatisme dan materialisme mulai mengikis idealisme yang seharusnya menjadi landasan gerakan mahasiswa.

Solusi kedua yang perlu diimplementasikan adalah penguatan kapasitas intelektual dan kritis mahasiswa. Kurikulum perkuliahan dan kegiatan ekstrakurikuler harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif. Forum-forum diskusi, kajian isu-isu sosial politik, dan pelatihan kepemimpinan yang berorientasi pada integritas dan etika harus digalakkan. Mahasiswa harus didorong untuk membaca, meneliti, dan berdiskusi secara mendalam sebelum mengambil sikap dan bertindak terhadap suatu isu.

Fenomena “mahasiswa berkoar, kepentingan bersembunyi” ini bukan sekadar anekdot, melainkan sebuah persoalan serius yang mengancam kredibilitas gerakan mahasiswa di mata publik. Ketika masyarakat mulai meragukan ketulusan perjuangan mahasiswa, legitimasi mereka sebagai suara rakyat akan terkikis. Inilah yang menjadi bahaya laten terbesar.

Melihat realitas ini, pertanyaan “ke mana sebenarnya arah sejati mahasiswa?” bukan lagi sekadar retorika, melainkan sebuah gugatan moral yang mendalam. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin gerakan mahasiswa akan kehilangan relevansinya, bahkan dianggap sebagai bagian dari masalah itu sendiri. Kepercayaan publik yang selama ini menjadi modal utama mereka akan luntur, digantikan oleh sinisme dan apatisme.

Oleh karena itu, solusi terakhir dan yang paling fundamental adalah revolusi mental dalam diri setiap individu mahasiswa. Ini adalah panggilan untuk kembali ke khittah (dasar) awal perjuangan, yaitu pengabdian tulus kepada rakyat dan bangsa. Mahasiswa harus sadar bahwa status mereka sebagai kaum terpelajar bukan hanya keistimewaan, tetapi juga amanah besar. Amanah untuk berpikir kritis, untuk tidak mudah digoyahkan oleh bujuk rayu kepentingan, dan untuk selalu berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Ini adalah momen krusial bagi mahasiswa untuk menimbang kembali kompas moral mereka. Apakah mereka ingin dikenang sebagai pahlawan reformasi yang sesungguhnya, atau hanya sebagai sekumpulan individu yang dimanfaatkan oleh kepentingan sesaat dan kemudian terlupakan? Arah sejati mahasiswa bukanlah tentang seberapa sering mereka turun ke jalan, seberapa banyak pengikut di media sosial, atau seberapa besar nama mereka dikenal. Melainkan tentang seberapa besar dampak positif yang mereka berikan, seberapa teguh mereka memegang prinsip, dan seberapa tulus mereka berjuang demi kemaslahatan bersama.

Wahai Mahasiswa Indonesia, dengarkanlah! Cukup sudah koar-koar kosong tanpa arah. Hentikan sandiwara di balik topeng idealisme. Bersihkan hatimu dari noda kepentingan, cabut akar-akar pragmatisme yang menggerogoti jiwamu. Jadilah kembali garda terdepan perubahan yang sejati, berjuanglah dengan akal dan hati, bukan dengan ambisi tersembunyi. Bangkitlah dari tidur panjang ilusi! Karena hanya dengan ketulusan dan integritas, arah sejati gerakan mahasiswa akan kembali ditemukan, dan kepercayaan rakyat akan kembali direbut! Masa depan bangsa ada di tanganmu, jangan biarkan ia tersandera oleh kepentingan yang bersembunyi di balik barisanmu! (*)

Penulis: Munaeni

(Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Bisnis UHO/Bendahara Umum MPM UHO)

Facebook Comments

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Basarnas Kendari Turunkan Tim SAR Cari Dua Mahasiswa UHO yang Tersesat di Hutan Konawe
Belajar dari Malang, PDAM Kendari Percepat Digitalisasi dan Reformasi Tata Kelola Layanan Air
MI Al-Istiqomah Kendari Raih Akreditasi A, Perkuat Pendidikan Islam Berbasis Karakter dan Digital
Basarnas Kendari Kirim Tim Bantu Pencarian Pesawat Hilang di Maros–Pangkep
Promo Januari 2026! Al-Munawwir Buka Kelas Berkuda & Panahan
Al-Munawwir Stable & Archery Reborn Gelar Pelatihan Dasar Berkuda di Kendari
Perjuangan Ojol Perempuan di Kolaka, Menghidupi Keluarga dari Jalanan
Direktur PT Tiran Nusantara Group: Kesehatan Karyawan Kunci Produktivitas Perusahaan

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 09:00 WITA

Basarnas Kendari Turunkan Tim SAR Cari Dua Mahasiswa UHO yang Tersesat di Hutan Konawe

Selasa, 27 Januari 2026 - 20:32 WITA

Belajar dari Malang, PDAM Kendari Percepat Digitalisasi dan Reformasi Tata Kelola Layanan Air

Selasa, 27 Januari 2026 - 14:49 WITA

MI Al-Istiqomah Kendari Raih Akreditasi A, Perkuat Pendidikan Islam Berbasis Karakter dan Digital

Kamis, 22 Januari 2026 - 14:34 WITA

Basarnas Kendari Kirim Tim Bantu Pencarian Pesawat Hilang di Maros–Pangkep

Rabu, 21 Januari 2026 - 19:21 WITA

Promo Januari 2026! Al-Munawwir Buka Kelas Berkuda & Panahan

Berita Terbaru