PEMERINTAHAN

Begini Keinginan Wagub Sultra soal Mutasi Pejabat

Wakil Gubernur Sultra Lukman Abunawas

panjikendari.com – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Lukman Abunawas kembali meluruskan apa yang sebenarnya terjadi di balik mutasi pejabat lingkup Pemprov Sultra Senin lalu, 7 Januari 2019.

Lukman Abunawas menyadari jika mutasi pejabat merupakan hak prerogatif gubernur. Hanya saja, yang disayangkan olehnya adalah gubernur Sultra Ali Mazi tidak konsisten dengan apa yang telah disampaikan.

“Saya sangat setuju kalau itu hak prerogatif beliau. Namun disayangkan tidak seia dan sekata apa yang beliau sampaikan kepada kami bertiga (saya, Pj Sekda, dan La Ode Mustari Kepala BKD) saat selesai pelantikan Kepala BKD, Kepala Bapenda, Plt Kadis Dikbud dan Kepala Badan Kesbangpol.”

advertisement

“Beliau (gubernur) katakan untuk mutasi/rotasi berikutnya hanya 3 orang saja yang terlibat/menyusun, boleh tanya mereka Pj Sekda dan BKD juga pak Ali Mazi ingatkan berkali-kali agar Haris Silondae karena banyak pengorbanan sewaktu perjuangan Pilgub yang lalu,” tulis Wagub Sultra Lukman Abunawas melalui pesan WhatsApp-nya kepada panjikendari.com, Kamis, 10 Januari 2019.

Lukman Abunawas juga sangat menyesalkan tindakan Gubernur Sultra Ali Mazi yang tidak menerima kedatangan tokoh-tokoh masyarakat.

“Kemarin ada 30 orang yang hadir, mereka datang untuk bersilaturrahim dengan baik-baik, dan wajar mereka datang sebagai tokoh masyarakat untuk memberikan saran-saran dan input karena mereka pendukung utama AMAN,  baik sebagai pembina/penasehat tim pemenangan AMAN maupun sebagai pelaksana dan ketua Satker,” katanya.

Lukman menyebutkan, ke-30 tokoh masyarakat tersebut antara lain; Masyhur Masie Abunawas, Sutoarjo Pondiu, Muhtar Silondae, Tamsan Renggaala, Yunus Toondu, Asahi Rakala, Amin Saranani, Rifai Lamuse, Abdul Rasak, Rustam Tamburaka, Hikmat Anshari, Asri Asi, Aladin Amboroe, Vence R, Pin Moke, Juanda K, Guru Basir Rumbalangi, Sugi Tamburaka, Isra Malaka, Ilham Laduni KoNut, dan lainnya. Mereka hadir dengan tertib dan penuh rasa kebersamaan.

“Jadi mereka sangat menyayangkan sikap pak Ali Mazi yang tidak mau menerima mereka, padahal tadinya sudah janji untuk ketemu. Bayangkan mereka menunggu 9 jam, padahal mereka sudah disilakan masuk di ruang tunggu namun mereka masih sabar,” tuturnya.

Lagi-lagi, mantan Sekda Sultra ini mengaku tetap menghargai dan menjunjung tinggi keputusan Gubernur Sultra.

“Saya hanya mau beri saran-saran saja kalau memang dilibatkan, tapi bukan memaksa. Minimal saya diberitahu lebih awal kalau sudah disusun mutasi supaya saya tidak kaget, dan seharusnya Pj Sekda harus mampu memediasi untuk beri saran/ingatkan kepada pak gubernur. Itu saja yang saya clearkan/luruskan agar tidak persepsi negatif.

Lukman lantas mencontohkan, pada mutasi kemarin ada Kabid golongan 3.D membawahi golongan 4.A. Lalu kata dia, ada jabatan teknis dijabat dari latar belakang guru.

“Ini yang kita harus ingatkan beliau, termasuk ada pejabat eselon III dan IV yang sudah menjabat 17-20 tahun, ini bisa kita rotasi untuk penyegaran.

Oleh karena itu, menurut mantan bupati Konawe dua periode ini, Pj Sekda dan Kepala BKD seharusnya menjadi penengah atau mediator untuk kebersamaan dan demi stabilitas penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.

“Maaf saya menjelaskan untuk kita ketahui bersama, saya punya hak jawab sebagai bagian dari Hak Azasi Manusia; Rasulullah bersabda : Khairunnaasi Anfa’uhum Linnaasi (sebaik-baik manusia adalah yg bermanfaat bgi manusia yg lainnya); mari kita bangun Sultra dengan prinsip samaturu/kerjasama, meronga-rongga/kompak, medudulu/bersatu,” terangnya panjang lebar.

Di akhir pesannya, Lukman Abunawas mendoakan semoga Allah SWT selalu memberikan Rahmat-Nya kepada Gubernur Sultra Ali Mazi bersama keluarga.

“Saya sebagai pendamping beliau yang tetap dalam satu kesatuan dalam membangun daerah Sultra yang kita cintai bersama-sama,” ujarnya.

Lukman Abunawas menegaskan, tidak ada konflik antara dirinya dan gubernur. Baginya, ini hanya kritik dan saran yang konstruktif seperti dilakukan Ketua Presidium JaDI Sultra Hidayatullah yang selalu mengkritisi kebijakan dan program AMAN.

“Insya Allah Sultra tetap Kondusif, terkendali dan selalu AMAN, Insya Allah saya tetap loyal, lugas/lembut dan tegas, serta selalu amanah/dipercaya/kommit, biar pejabat lain tidak kommit/konsisten, tapi saya tetap kerja, kerja, kerja untuk SULTRA-AMAN,” tutupnya.

Penulis: Jumaddin Arif

Beri Komentar

Panji Kendari merupakan media online yang mengabarkan peristiwa terkini di jazirah Sulawesi Tenggara dengan mengedepankan potensi daerah, potensi wisata, dan kejadian-kejadian untuk para pembaca.

STATISTIK WEB

Facebook

To Top
error: Content is protected !!