OPINI

Dampak Perubahan Iklim terhadap Kehidupan Masyarakat Pesisir Kabupaten Muna

88

Oleh: La Ode Muhammad Ramadan
(Pegawai Dinas Perikanan Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara)

Kabupaten Muna merupakan salah satu kabupaten kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara yang diapit oleh tiga selat yakni Selat Buton, Selat Tiworo, dan Selat Spelman.

Letak yang strategis ini menyebabkan Kabupaten Muna memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi (mega biodiversity) yang merupakan aset berharga bagi masyarakatnya.

Di sepanjang garis pantai yang membentang hingga 337 kilometer itu, hidup ribuan masyarakat pesisir yang memiliki karakteristik sosial berbeda dengan masyarakat lainnya. Perbedaan ini muncul akibat perbedaan karakteristik sumberdaya yang dihadapi.

Di balik potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang dimiliki, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Muna juga rawan terhadap ancaman berbagai bencana alam dan dampak perubahan iklim. Potensi bencana yang terjadi meliputi gempa bumi, tsunami, banjir, dan kenaikan muka air laut.

Dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini seperti cuaca ekstrim, kenaikan muka air laut, perubahan suhu permukaan air laut, perubahan pola cuaca dan iklim setempat telah dirasakan oleh masyarakat pesisir. Kenaikan permukaan air laut telah merendam sejumlah wilayah pesisir.

Potensi bencana dan perubahan iklim juga berdampak terhadap degradasi ekosistem, pencemaran, erosi, ketersediaan air bersih, dan keanekaragaman hayati.

Terancamnya ekosistem pesisir akibat berbagai gangguan pengelolaan perikanan tidak ramah lingkungan dan potensi kerusakan lain yang marak akhir-akhir ini perlu disoroti lebih dalam, karena wilayah pesisir merupakan sumber penghidupan bukan hanya masyarakat pesisir, namun juga keseluruhan masyarakat di Kabupaten Muna.

Pencemaran air sungai, degradasi hutan, praktik penangkapan ikan yang merusak (tidak ramah lingkungan) serta perubahan iklim merupakan sejumlah faktor yang dapat mengancam kelestarian wilayah pesisir.

Ancaman kerusakan ekosistem pesisir yang cukup besar datang dari pengelolaan perikanan tidak ramah lingkungan dan perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global.

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Sementara Pemanasan global merupakan peningkatan suhu rata-rata bumi akibat meningkatnya konsentrasi berbagai gas di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca.

Fenomena ini terjadi akibat aktivitas manusia itu sendiri. Penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan, serta kerusakan lingkungan melalui degradasi lahan memberi kontribusi yang cukup besar terhadap perubahan iklim ini.

Kerusakan ekologi yang disebabkan oleh pemanasan global akibat perubahan iklim bagi biota di lautan adalah pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Pemutihan terumbu karang ini mempengaruhi biota laut lainnya yang hidup dalam ekosistem tersebut. Selama ini telah diketahui bahwa terumbu karang merupakan habitat hidup bermacam-macam jenis ikan.

Kerusakan terumbu karang yang terjadi dapat mempengaruhi populasi ikan dan kemudian mempengaruhi aktivitas melaut para nelayan. Selain itu perubahan iklim juga menyebabkan meningkatnya intensitas dan frekuensi badai di lautan dan pesisir.

Kondisi perubahan iklim yang mengganggu ekosistem laut ini dapat memperpuruk kehidupan ekonomi para nelayan (masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil) yang menggantungkan kehidupannya pada penangkapan ikan laut. Kebutuhan manusia yang semakin meningkat, sementara daya dukung alam bersifat terbatas menyebabkan potensi kerusakan sumberdaya alam menjadi semakin besar.

Hal ini menjadi suatu kekhawatiran tersendiri mengingat kondisi masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir di berbagai kawasan secara umum ditandai oleh kemiskinan, keterbelakangan sosial budaya, rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) serta minimnya kapasitas berorganisasi masyarakatnya.

Dampak Ekologis

Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Muna yang kerap diakronimkan dengan nelayan, memiliki pola penangkapan ikan tradisional yang menyesuaikan diri terhadap alam dalam berbagai macam kegiatan pencarian ikan. Perubahan iklim menyebabkan berbagai perubahan dalam ekosistem laut antara lain disebabkan oleh perubahan temperatur dan keasaman akibat penyerapan CO2 oleh lautan.

Secara global, perubahan iklim menyebabkan terjadinya kenaikan permukaan air laut, perubahan pola hidrologi, pola angin, perubahan suhu dan keasaman air laut. Berbagai perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan ekologis, antara lain intrusi air laut ke daratan; gelombang ekstrim dan badai; genangan dan banjir; erosi pantai; kerusakan terumbu karang; perubahan proses upwelling, perubahan pola migrasi dan gerombolan ikan; perubahan morfologi pantai dan mangrove; meningkatnya salinitas air; kerusakan lahan budidaya perikanan dan sumber-sumber air tawar; serta meningkatnya frekuensi dan intensitas badai di lautan.

Di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Muna, gejala perubahan iklim telah menyebabkan berbagai perubahan ekologis di wilayah laut yang dirasakan secara langsung oleh para nelayan dan mempengaruhi aktivitas produksi perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Berdasarkan perspektif masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Muna, perubahan tersebut meliputi dua hal yakni perubahan musim ikan dan kekacauan musim angin.

Dalam hal perubahan musim ikan, perubahan iklim menyebabkan terjadinya perubahan suhu permukaan laut dan stratifikasi kolom air yang kemudian mempengaruhi proses upwelling di lautan. Suatu proses penting yang disebut penaikan air (upwelling) terjadi dimana angin secara tetap menggerakan permukaan air menjauhi lereng pantai yang terjal, dan membawa ke permukaan air dingin yang kaya zat hara yang telah terkumpul di tempat dalam. Bagian lautan yang paling produktif adalah di tempat terjadinya penaikan air ini. Perubahan proses upwelling ini menyebabkan terjadinya perubahan pola migrasi ikan dan gerombolan ikan. Secara sederhana, masyarakat nelayan Kabupaten Muna telah memahami bahwasannya perubahan suhu lautan telah menyebabkan bepindahnya ikan-ikan.

Perubahan salinitas laut juga merupakan faktor yang menyebabkan perpindahan berbagai spesies hewan karena ketidaksesuaian kondisi tempat hidup yang berubah. Musim hujan yang berkepanjangan merupakan salah satu contoh yang menyebabkan menurunnya salinitas laut di wilayah perairan Kabupaten Muna. Para nelayan mengeluhkan menurunnya produksi tangkapan ikan akibat intensitas curah hujan terjadi lebih besar dari normalnya. Perubahan musim ikan ini sangat berpengaruh terhadap penghasilan nelayan mengingat beberapa spesies ikan memang hanya datang di musim-musim tertentu.

Terkait dengan kekacauan musim angin, salah satu dampak dari perubahan iklim yang mempengaruhi kegiatan produksi nelayan adalah perubahan pola angin. Nelayan Kabupaten Muna memahami dua musim angin yang berhembus di wilayah perairan Kabupaten Muna yaitu musim angin timur dan musim angin barat. Musim angin timur berhembus sejak bulan April hingga Agustus, sedangkan musim angin barat berhembus di bulan September hingga Januari. Gejala perubahan iklim telah menyebabkan kekacauan musim angin di wilayah ini.

Dampak Sosial Ekonomi

Masyarakat pesisir sebagai sekumpulan masyarakat yang hidup bersama dan mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas yang terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumberdaya pesisir. Nelayan sebagai bagian dari masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil menjadi pihak yang terpengaruh secara signifikan apabila terjadi perubahan-perubahan alam di ekosistem laut dan pesisir. Dampak yang ditimbulkan dari berbagai perubahan tersebut tidak hanya mempengaruhi kondisi ekonomi nelayan, namun juga aspek-aspek lain dikehidupan sosial nelayan.

Dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan dari kerusakan ekosistem akibat perubahan iklim yang terjadi di Kabupaten Muna dapat dilihat dari dua asepk yakni aspek kesehatan lingkungan dan pemukiman masyarakat; dan aspek perikanan. Dalam aspek kesehatan lingkungan dan pemukiman masyarakat, perubahan iklim menyebabkan angin puting beliung di kawasan pemukiman penduduk, banjir rob, gelombang ekstrim dan badai; serta menurunnya kualitas sumber-sumber air penduduk, khususnya saat musim hujan berkepanjangan. Pada kondisi ini, jumlah air akan melimpah, namun kualitasnya menurun. Air yang dihasilkan berwarna putih susu dengan kandungan kapur/lumpur yang tinggi.

Sementara dalam aspek perikanan, perubahan iklim menyebabkan menurunnya hasil tangkapan nelayan. Hal ini dipicu oleh beberapa hal : (pertama) sulitnya menentukan wilayah tangkapan ikan. Perubahan iklim menyebabkan perubahan suhu permukaan laut dan stratifikasi kolom air yang kemudian berdampak pada perubahan proses upwelling dan mempengaruhi pola migrasi ikan. Bagian lautan yang paling produktif adalah di tempat terjadinya penaikan air ini.

Nelayan Kabupaten Muna telah memiliki wilayah penangkapan tertentu yang menjadi areanya mencari ikan selama bertahun-tahun. Perubahan iklim yang menyebabkan perubahan pola migrasi ikan terjadi pula di wilayah perairan Kabupaten Muna. Hal ini kemudian menimbulkan kendala di kalangan nelayan tradisional yang masih mengandalkan pengetahuan lokal serta pengalaman empirik semata dalam pencarian ikan.

Ketika perubahan iklim memberi dampak yang signifikan pada kondisi ekosistem laut dan membuat banyak perbedaan dibanding kondisi lautan sebelumnya, pengalaman empirik nelayan dalam pencarian ikan menjadi tidak berlaku lagi. Para nelayan menjadi sulit untuk menentukan wilayah penangkapan ikan.

(Kedua) sulitnya menentukan musim penangkapan ikan. Perubahan iklim yang menyebabkan kekacauan cuaca serta perubahan pola migrasi ikan seringkali menyulitkan nelayan menentukan waktu yang tepat untuk melaut. Sulitnya memprediksi musim penangkapan ikan ini juga menyebabkan kerugian bagi para nelayan. Hal tersebut terjadi ketika tiba periode dimana biasanya nelayan melaut dan mendapatkan hasil tangkapan yang menguntungkan, namun yang terjadi justru biaya produksi yang dikeluarkan melebihi dari hasil yang diperoleh.

(Ketiga) meningkatnya resiko melaut. Salah satu dampak perubahan iklim yang mengancam kondisi sosial ekonomi nelayan adalah resiko melaut yang semakin tinggi akibat ancaman meningkatnya badai dan gelombang ekstrim. Pada wilayah perairan kabupaten Muna, gelombang ekstrim serta badai merupakan ancaman yang kerap datang ketika tiba musim angin Timur serta musim penghujan. Sementara perahu dan sarana penangkapan ikan nelayan Kabupaten Muna umumnya masih tradisional dan belum dalam kapasitas menghadapi badai ataupun gelombang besar.

Apabila datang musim dimana risiko melaut berada dalam kondisi yang tinggi, kebanyakan nelayan lebih memilih untuk tidak melaut. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan buruk yang dapat terjadi apabila nelayan memaksakan untuk tetap melaut. Di musim-musim ini kebanyakan nelayan mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup, lalu kembali melaut lagi ketika kondisi mulai membaik. Perubahan ekosistem pesisir sebagai dampak dari perubahan iklim juga pada akhrinya mempengaruhi banyak aspek yang membentuk karakteristik masyarakat nelayan.

Berbagai gejala perubahan iklim di wilayah pesisir meliputi kekacauan siklus musim hujan dan kemarau; perubahan pola angin; kenaikan muka air laut; perubahan pola hidrologi; serta kenaikan suhu lautan merupakan faktor-faktor awal yang memicu terjadinya berbagai perubahan fisik dan lingkungan yang berdampak pada kegiatan produksi nelayan Kabupaten Muna. Dampak ini terjadi melalui perubahan kodisi ekologi yang pada akhirnya berdampak pula pada kondisi sosial dan ekonomi nelayan. (**)

Beri Komentar
Loading...

Terpopuler

Panji Kendari merupakan media online yang mengabarkan peristiwa terkini di jazirah Sulawesi Tenggara dengan mengedepankan potensi daerah, potensi wisata, dan kejadian-kejadian untuk para pembaca.

STATISTIK WEB

Facebook

To Top
error: Content is protected !!