Fakta-Fakta Desa Morehe, Desa Diduga Fiktif di Kabupaten Konawe

- Penulis

Senin, 11 November 2019 - 08:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Balai pertemuan Desa Morehe yang dibangun di Desa Anggawo.

i

Balai pertemuan Desa Morehe yang dibangun di Desa Anggawo.

panjikendari.com – Desa Morehe merupakan salah satu desa di Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, yang diduga fiktif alias desa siluman.

Desa Morehe adalah pemekaran dari Desa Rawua bersama Desa Anggawo. Dimekarkan pada masa pemerintahan Bupati Konawe Lukman Abunawas. Wilayah Desa Morehe berada di sebelah barat Desa Rawua, di seberang Sungai Konaweha.

Untuk menjangkau wilayah Desa Morehe harus menggunakan jasa transportasi sungai, Katinting, dengan bayaran Rp 50 ribu per orang.

Kepala urusan (Kaur) Pemerintahan Desa Morehe, Suitno menjelaskan, pemekaran Desa Morehe sebagai desa persiapan bersama desa lainnya di Konawe saat Lukman Abunawas akan bertarung pada Pilkada Konawe di periode keduanya.

Sejak jadi desa persiapan, kata Suitno, Desa Morehe dipimpin oleh Toha Makmur sebagai pelaksana kepala desa. “Nanti pada tahun 2014 ada pemilihan langsung. Pak Toha terpilih sebagai kepala desa,” kata Suitno, saat ditemui di rumahnya di Desa Rawua, Minggu 10 November 2019.

Selama jadi desa persiapan, honor aparat desa terbayar lancar melalui program block grant, program bantuan dana untuk desa yang dicetus gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam saat itu. Namun, masuk tahun 2015, honor sudah tidak ada lagi.

Kata Suitno, sebagai layaknya desa pada umumnya, Desa Morehe memiliki perangkat desa, mulai dari kepala desa, sekretaris, bendahara, beberapa Kaur, RT, RW, hingga kepala adat. Ada sekitar 200-an lebih warga bermukim di sana.

Namun, sejak Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) mekar dari Kabupaten Kolaka, wilayah Desa Morehe diklaim masuk wilayah Koltim. “Kita disuruh pindah dari sana,” ucap Suitno.

Sebagian warga akhirnya memilih kembali ke tempat asal dan beraktivitas di Desa Rawua, karena memang wilayah Morehe itu awalnya dibuka untuk area perkebunan oleh warga Desa Rawua. “Yang lain masih bertahan di sana karena mereka berkebun,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Konawe sepertinya tidak ingin Desa Morehe bubar begitu saja. Maka dibangunlah balai pertemuan di Desa Anggawo yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari perkampungan.

Jurnalis panjikendari.com mencoba melihat langsung kondisi balai pertemuan tersebut, yang kata Suitno, gedung tersebut terakhir digunakan sebagai TPS pada Pemilu baru-baru ini.

Baca Juga  Mendikdasmen Jadi 'Guru' Sehari di Konawe Selatan

Untuk menjangkau balai desa tersebut, kita harus melewati jembatan gantung yang membelah Sungai Ameroro, dan menyusuri jalan pengerasan yang berbatu-batu. Sepanjang jalan, kita menjumpai kebun-kebun warga.

Ada aktivitas pembangunan kantor Desa Anggawo dan sekolah dasar di sana. Hingga akhirnya kita harus menyusuri jalan setapak untuk mencapai balai pertemuan Desa Morehe.

Dengan kondisi yang tampak tidak terurus lagi, gedung permanen balai pertemuan Desa Morehe berdiri di tengah-tengah kebun. Di samping kiri-kanannya tumbuh tanaman jati dan semak belukar. Ukurannya sekira 7×15 meter. Berlantai tegel.

Selain balai pertemuan, pemerintah Kabupaten Konawe melalui Dinas Pendidikan setempat membangun sebuah sekolah dasar; SDN Morehe. Tapi lokasinya di Desa Rawua, berjauhan dengan balai pertemuan.

Desa Fiktif di Kabupaten Konawe

Suitno mengaku tidak mengerti kenapa SDN Morehe dibangun di Desa Rawua. “Mungkin karena warganya banyak tinggal di sini,” ucapnya.

Warga Desa Morehe, kata Suitno, sudah menetap kembali di Desa Rawua sejak wilayahnya diklaim oleh pemerintah Koltim. Para aparat Desa Morehe kata dia bingung mau berbuat bagaimana.

“Pak desa sekarang sudah kembali seperti dulu lagi, menjadi imam desa di sini (Desa Rawua). Itu dia lagi kasih nikah orang di sebelah. Sedangkan sekretaris desa juga sudah ‘dimutasi’, menjadi warga Desa Rawua,” guyonnya.

Selain karena sudah tidak ada lagi wilayahnya meskipun ada balai desanya, perangkat Desa Morehe tidak lagi melaksanakan aktivitas pemerintahan karena sudah tidak ada lagi dana untuk honor yang kucur.

Bagaimana dengan dana desa? Menurut Suitno, sejak 2014 yang honor dan operasional desa bersumber dari dana block grant, tidak ada lagi anggaran yang turun.

“Kita tidak pernah dapat dana desa. Jangankan dapat, apa itu dana desa kita tau, makhluk dari mana sebenarnya dana desa itu. Saya nonton di TV, pak bupati sama pak wakil katanya ada dananya tapi disimpan di kas daerah,” tuturnya. (jie)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Belajar dari Malang, PDAM Kendari Percepat Digitalisasi dan Reformasi Tata Kelola Layanan Air
Rotasi Dispar Sultra dan Tanda Tanya Pariwisata: Menjaga Napas Panjang Keberlanjutan
Barantin Jaga Sumber Daya Hayati Sultra
KPR Silika Gelar Konsultasi Publik AMDAL di Bombana: Warga dan Pemerintah Sambut Positif
Proyek Terancam Mandek, Aspekindo Desak Solusi soal Tambang Batu di Bombana
Kementerian Transmigrasi dan PATRI Jalin Kerja Sama Strategis untuk Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi
Pangdam Hasanuddin Tinjau Lahan Yon Teritorial Pembangunan di Buton, Siap Pacu Ekonomi Daerah
Amir Hasan Dilantik Jadi Sekda Definitif, Wali Kota Kendari Tekankan Peran Sentral Birokrasi

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 20:32 WITA

Belajar dari Malang, PDAM Kendari Percepat Digitalisasi dan Reformasi Tata Kelola Layanan Air

Senin, 19 Januari 2026 - 19:17 WITA

Rotasi Dispar Sultra dan Tanda Tanya Pariwisata: Menjaga Napas Panjang Keberlanjutan

Kamis, 4 Desember 2025 - 13:14 WITA

Barantin Jaga Sumber Daya Hayati Sultra

Kamis, 23 Oktober 2025 - 15:32 WITA

KPR Silika Gelar Konsultasi Publik AMDAL di Bombana: Warga dan Pemerintah Sambut Positif

Selasa, 14 Oktober 2025 - 05:26 WITA

Proyek Terancam Mandek, Aspekindo Desak Solusi soal Tambang Batu di Bombana

Berita Terbaru