panjikendari.com – Aktivitas gempa bumi di Sulawesi Tenggara dalam sepekan terakhir tercatat cukup dinamis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebanyak 22 kejadian gempa terjadi sepanjang periode 27 Maret hingga 1 April 2026.
Berdasarkan pemantauan Stasiun Geofisika Kendari, gempa tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan frekuensi tertinggi terjadi di Kolaka Timur (Koltim) dan Konawe Utara (Konut). Kedua daerah ini masing-masing mencatat lima kejadian gempa dalam kurun waktu tersebut.
Selain Koltim dan Konut, aktivitas gempa juga terdeteksi di Konawe Selatan, Kolaka, Konawe, Buton, Buton Utara, Konawe Kepulauan, serta Buton Selatan. Dari seluruh kejadian, beberapa di antaranya dilaporkan sempat dirasakan oleh masyarakat.
Petugas Operasional BMKG Stasiun Geofisika Kendari, Waode Mudhalifana, menyampaikan bahwa gempa-gempa yang terjadi didominasi oleh magnitudo kecil dengan kedalaman dangkal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah Sulawesi Tenggara masih berada dalam kategori normal dan merupakan bagian dari dinamika tektonik yang aktif di kawasan tersebut.
BMKG juga mencatat bahwa hanya sebagian kecil gempa yang dirasakan warga. Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan gempa yang relatif rendah sehingga dampaknya terbatas.
Secara umum, aktivitas gempa pada periode tersebut tidak menunjukkan adanya potensi bahaya besar, termasuk tsunami. Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Selain itu, masyarakat diminta untuk selalu mengikuti informasi resmi yang disampaikan melalui kanal BMKG, baik melalui situs web, media sosial resmi, maupun aplikasi InfoBMKG.
BMKG menegaskan akan terus memantau perkembangan aktivitas gempa di wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya secara berkala guna memberikan informasi yang akurat kepada publik. (*)








