Puasa Ramadhan bagi Orang Tua yang Pikun

- Penulis

Senin, 6 Mei 2019 - 22:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi: (pixabay.com)

i

ilustrasi: (pixabay.com)

Panjikendari.com – Tidak semua orang dapat menikmati Ramadhan dengan kondisi 100 persen prima. Misalnya, kalangan lanjut usia (lansia) yang telah kehilangan ketajaman pikirannya. Mereka kadangkala mengidap pikun, sehingga boleh jadi makan atau minum saat siang hari Ramadhan.

Lantas, bagaimana kewajibannya puasa Ramadhan? Apakah boleh tak berpuasa? Kemudian, apa yang dapat dilakukan keluarga yang menyayanginya?Terkait ini, pendakwah dari Pusat Kajian Hadis, Ustaz DR Ahmad Lutfi Fathullah, memberikan pandangannya.

Bagi mereka yang lansia dan cenderung pikun, maka boleh tidak berpuasa. Namun, Ustaz Ahmad Lutfi meminta agar tidak kaku menafsirkan hal tersebut.

Sebab, perlu pula keluarga terdekat melihat kondisi fisik orang tua. Jika masih kuat berpuasa, ajaklah dia bersahur dan biarlah dirinya berpuasa semampunya.

Jika ternyata berbuka lantaran dia pikun, maka ucapkanlah alhamdulillah.

Jika dia melakukan hal-hal yang membatalkan puasa–semisal makan dan minum–biarkanlah. Maka, pada akhir Ramadhan si anak dapat membayarkan fidyah puasanya.

Menurut Ustaz Ahmad Lutfi, lebih baik keluarga terdekat tetap mengajak orang tua yang pikun untuk berpuasa. Di satu sisi, hal itu lebih efektif dari segi komunikasi. Artinya, orang tua itu tak akan merasa “tersisih.”

Di samping itu, Allah SWT mewajibkan sesuatu selalu diikat dengan “batasan kemampuan.” Demikian bila dikaitkan dengan fikih. Allah tidak akan mewajibkan sesuatu ibadah kecuali dalam batasan kemampuan yang hamba-Nya sanggupi.

Akan tetapi, hal itu tidak menggugurkan kewajiban berbuat. Sang hamba diberi kelonggaran-kelonggaran tertentu.

Dengan pemahaman seperti itulah anak-anak hendaknya memperlakukan orang tua yang sudah pikun.

Ambil contoh. Bila orang tua yang sudah amat sepuh dan pikun ikut sahur bersama-sama. Maka, misalnya, ketika pada pagi hari dia wafat, statusnya dalam kondisi sedang berpuasa.

“Tentu hal ini akan berbeda nilainya jika meninggal di pagi yang sama, tetapi dalam kondisi tidak berpuasa. Allahu a’lam.” kata Ustaz Ahmad Lutfi.

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/19/04/30/pqru44458-puasa-bagi-orang-pikun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tips Menjaga Pola Makan Sehat Pasca Lebaran
Usai Lebaran, Nelayan Teluk Kendari Kembali ke Laut: Menjemput Harapan, Menyulam Asa
Pawai Obor Meriah di Koltim, Ribuan Warga Sambut Idul Fitri 1446 H
Sambut 1 Syawal 1446 H, Forkomm Laksanakan Takbir Keliling 
Berbagi Keberkahan di Bulan Suci, Forkomm Bagi-bagi Takjil Kepada Masyarakat 
Ahad Hari Ini, Sejumlah Warga Kendari Melaksanakan Shalat Idulfitri 
Petani Milenial Gelar Buka Puasa Bersama dan Training Marketing, Beri Bonus hingga Motor dan iPhone
PT MUF Kendari Anjangsana ke Panti Asuhan

Berita Terkait

Senin, 7 April 2025 - 10:40 WITA

Tips Menjaga Pola Makan Sehat Pasca Lebaran

Senin, 7 April 2025 - 10:10 WITA

Usai Lebaran, Nelayan Teluk Kendari Kembali ke Laut: Menjemput Harapan, Menyulam Asa

Senin, 31 Maret 2025 - 15:32 WITA

Pawai Obor Meriah di Koltim, Ribuan Warga Sambut Idul Fitri 1446 H

Minggu, 30 Maret 2025 - 22:01 WITA

Sambut 1 Syawal 1446 H, Forkomm Laksanakan Takbir Keliling 

Minggu, 30 Maret 2025 - 19:52 WITA

Berbagi Keberkahan di Bulan Suci, Forkomm Bagi-bagi Takjil Kepada Masyarakat 

Berita Terbaru