Jeruk Siam Premium Mokoau Naik Kelas, Petani Mulai Ubah Mutu Menjadi Nilai Jual

- Penulis

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebun jeruk siam Kelompok Tani Makmur Sejahtera di Mokoau yang menjadi lokasi pengembangan dan pemberdayaan usahatani jeruk.

i

Kebun jeruk siam Kelompok Tani Makmur Sejahtera di Mokoau yang menjadi lokasi pengembangan dan pemberdayaan usahatani jeruk.

KENDARI — Jeruk siam yang dibudidayakan Kelompok Tani Makmur Sejahtera di Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, mulai dipasarkan dengan pendekatan yang berbeda.

Petani tidak lagi hanya menghitung hasil panen berdasarkan jumlah kilogram. Mutu buah kini menjadi bagian penting dalam menentukan nilai jual. Jeruk dipilah berdasarkan kualitas, kemudian dikemas, dicatat, dan dipasarkan sesuai kelasnya.

Ketua Tim Pelaksana Program dari Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Jabuddin, mengatakan perubahan tersebut menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian melalui perbaikan mutu dan pemasaran.

Program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan tim Universitas Halu Oleo tersebut menyasar dua persoalan utama yang dihadapi kelompok tani, yakni pengelolaan mutu produksi dan pemasaran.

Hamparan kebun jeruk siam Kelompok Tani Makmur Sejahtera di Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari.

Pada kondisi awal, jeruk premium dan nonpremium belum dikelola melalui sistem klasifikasi yang terstruktur. Pengemasan, pencatatan transaksi, maupun pemasaran kolektif juga belum berjalan secara optimal.

Tenaga pengajar di Fakultas Pertanian UHO Kendari itu menjelaskan, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana hasil panen yang sudah ada dapat memiliki nilai jual lebih baik melalui pengelolaan mutu.

Kelompok Tani Makmur Sejahtera saat ini mengelola kebun jeruk seluas sekitar tiga hektare dengan populasi kurang lebih 1.000 pohon. Sekitar 70 persen tanaman telah produktif dan usahatani tersebut memasuki tahun produksi kedua.

Perubahan paling terlihat dari penerapan sortasi. Jeruk premium dipisahkan dari jeruk nonpremium dan buah rusak sehingga masing-masing dapat dipasarkan dengan pendekatan berbeda.

Praktik sortasi jeruk premium, nonpremium, dan rusak sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu dan nilai jual produk.

Perbedaan mutu tersebut mulai tercermin pada harga.

Pada tahun pertama, jeruk premium dijual sekitar Rp12.000 per kilogram, sementara jeruk nonpremium sekitar Rp10.000 per kilogram. Memasuki tahun kedua, harga nominal jeruk premium meningkat menjadi Rp15.000 per kilogram, sedangkan produk nonpremium tetap berada di kisaran Rp10.000 per kilogram.

Kelompok tani juga mulai menerapkan strategi promosi beli lima kilogram gratis satu kilogram untuk produk premium.

Dengan harga nominal Rp15.000 per kilogram, pembeli membayar Rp75.000 untuk lima kilogram dan mendapatkan tambahan satu kilogram. Artinya, pembeli menerima enam kilogram dengan harga efektif sekitar Rp12.500 per kilogram.

Meski mendapatkan promosi, harga efektif produk premium tersebut masih sekitar 25 persen lebih tinggi dibandingkan jeruk nonpremium yang berada pada harga Rp10.000 per kilogram.

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa diferensiasi mutu mulai memberikan dampak terhadap nilai jual.

Produk premium tidak lagi sekadar label. Buah terlebih dahulu dipisahkan berdasarkan kualitas, ditimbang, dicatat, kemudian diarahkan ke pengemasan dan pemasaran yang berbeda.

Sortasi Jadi Pintu Masuk Pemasaran

Perbaikan pemasaran justru dimulai dari kebun.

Anggota kelompok mendapatkan pelatihan mengenai panen bermutu, penanganan awal, sortasi, hingga pencatatan hasil panen. Langkah tersebut menjadi dasar untuk memastikan perbedaan harga memiliki alasan yang jelas berdasarkan kualitas produk.

Menurut Jabuddin, pemisahan mutu menjadi bagian penting karena petani membutuhkan dasar yang jelas ketika menawarkan produk dengan harga berbeda kepada konsumen.

Saat ini, sekitar 80 persen hasil panen telah melalui proses sortir. Proporsi jeruk premium diperkirakan meningkat dari sekitar 50 persen menjadi 65 persen.

Dengan sistem tersebut, buah tidak lagi diperlakukan sebagai satu produk yang seragam.

Jeruk premium diarahkan menjadi produk utama. Jeruk nonpremium tetap dipasarkan sesuai kelasnya, sementara buah rusak dipisahkan agar tidak menurunkan persepsi konsumen terhadap produk yang masih memiliki kualitas baik.

Pemisahan mutu juga membantu kelompok tani menyusun daftar harga berdasarkan kualitas, bukan semata-mata hasil tawar-menawar ketika transaksi berlangsung.

Perubahan tersebut turut berdampak pada estimasi penerimaan per pohon.

Berdasarkan perhitungan menggunakan nilai tengah produksi, penerimaan per pohon pada tahun pertama diperkirakan sekitar Rp303.000. Pada tahun kedua, estimasi tersebut meningkat menjadi sekitar Rp417.188 per pohon.

Artinya, penerimaan per pohon diperkirakan meningkat sekitar 37,69 persen.

Namun, Jabuddin mengingatkan bahwa angka tersebut belum dapat diartikan sebagai pendapatan bersih. Perhitungan pendapatan tetap harus memperhitungkan biaya produksi yang benar-benar dikeluarkan petani.

Data biaya dan pendapatan dalam laporan kemajuan program masih berupa estimasi yang perlu diverifikasi kembali menggunakan catatan aktual kelompok tani.

Hal tersebut penting agar keberhasilan program tidak hanya dilihat dari kenaikan harga jual, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang benar-benar diterima petani.

Belajar Menjual sebagai Kelompok

Perubahan tidak hanya terjadi pada proses produksi, tetapi juga pada cara kelompok memandang pemasaran.

Sebelumnya, pemasaran kolektif belum terstruktur. Identitas produk belum kuat, pencatatan transaksi belum sistematis, dan ketergantungan terhadap pedagang pengumpul masih relatif tinggi.

Dalam perkembangan program, kelompok mulai menerapkan pemasaran secara kolektif. Buah dipilah, ditimbang, dan dicatat sebelum dipasarkan.

Kemasan sederhana dan identitas kelompok juga mulai digunakan untuk mendukung diferensiasi produk premium.

Jabuddin menilai pemasaran kolektif tidak sekadar menjual buah secara bersama-sama. Sistem tersebut memungkinkan kelompok mengonsolidasikan mutu, volume, harga, serta informasi penjualan.

Jika dilakukan secara konsisten, kelompok akan memiliki dasar yang lebih kuat untuk bernegosiasi dengan pembeli.

Pengukuran keberdayaan pemasaran menunjukkan perubahan skor dari 14 menjadi 21, atau meningkat sekitar 50 persen.

Indikator yang dinilai mencakup kemampuan menentukan harga berdasarkan mutu, mengemas dan memberikan identitas produk, mencatat volume dan transaksi, melaksanakan pemasaran kolektif, serta mengakses pembeli secara lebih langsung.

Teknologi Sederhana Perkuat Nilai Produk

Penguatan pemasaran juga didukung perangkat teknologi sederhana.

Timbangan digital digunakan untuk membantu pencatatan volume berdasarkan kelas mutu. Wadah plastik berlubang mendukung penanganan hasil panen, sementara meja sortasi membantu proses pemisahan buah.

Kemasan dan label mulai digunakan untuk memperkuat identitas produk premium. Formulir pencatatan juga menjadi alat untuk mendokumentasikan produksi dan transaksi.

Dosen Fakultas Pertanian UHO Kendari tersebut mengatakan teknologi tidak bekerja sendiri. Nilainya muncul ketika seluruh perangkat digunakan sebagai bagian dari satu rangkaian proses.

Buah disortir, ditimbang, dicatat, kemudian dipasarkan berdasarkan kualitasnya. Data penjualan yang terkumpul selanjutnya dapat digunakan kelompok untuk mengevaluasi harga maupun saluran distribusi.

Perjalanan Kelompok Tani Makmur Sejahtera menunjukkan bahwa meningkatkan nilai hasil pertanian tidak selalu berarti menghasilkan lebih banyak.

Nilai juga dapat diciptakan ketika petani mampu membedakan mutu, menjaga kualitas, mencatat hasil, membangun identitas produk, dan menjualnya dengan strategi yang lebih terarah.

Jeruk yang sebelumnya hanya dihitung dalam kilogram hasil panen kini mulai diperlakukan sebagai produk dengan kelas dan nilai yang berbeda.

Program tersebut merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat, Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Pendanaan 2026.

Kegiatan dilaksanakan Universitas Halu Oleo dan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (*)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KWT di Muna Dilatih Olah Limbah Ikan dan Komba-Komba Jadi Bokashi untuk Padi Gogo Paewuna
Kuliah Umum di UHO, Mentan Amran: Indonesia Nomor Satu Berdoa, Tapi Terakhir Bertindak
Kendari Jadi Wilayah Penerima MBG Terbesar di Sultra
Peletakan Batu Pertama GOR UM Kendari, Sultra Perkuat Infrastruktur Pendidikan Tinggi
Kepala BB Sultra Sapa Siswa SMAN 2 Kendari Bawa Pesan Mendikdasmen
MI Al-Istiqomah Kendari Terapkan Cara Unik PPDB, Jaring Siswa Lewat Lomba Edukatif Anak Usia Dini
MI Al-Istiqomah Kendari Raih Akreditasi A, Perkuat Pendidikan Islam Berbasis Karakter dan Digital
Dari Agrowisata California, Masjid Pondok Pesantren Alam Nurul ‘Ilmi Mulai Dibangun

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:09 WITA

Jeruk Siam Premium Mokoau Naik Kelas, Petani Mulai Ubah Mutu Menjadi Nilai Jual

Kamis, 20 Agustus 2026 - 19:00 WITA

KWT di Muna Dilatih Olah Limbah Ikan dan Komba-Komba Jadi Bokashi untuk Padi Gogo Paewuna

Sabtu, 6 Juni 2026 - 16:31 WITA

Kuliah Umum di UHO, Mentan Amran: Indonesia Nomor Satu Berdoa, Tapi Terakhir Bertindak

Jumat, 8 Mei 2026 - 10:36 WITA

Kendari Jadi Wilayah Penerima MBG Terbesar di Sultra

Rabu, 1 April 2026 - 20:50 WITA

Peletakan Batu Pertama GOR UM Kendari, Sultra Perkuat Infrastruktur Pendidikan Tinggi

Berita Terbaru