Konawe Selatan, Panjikendari.com – Para pendekar panah tradisional se-Sulawesi Tenggara bersiap mengayunkan busur mereka dalam ajang bergengsi Open Tournament dan Seleksi Daerah (Selekda) Road to FORNAS VIII 2025. Turnamen ini bakal digelar pada 27–29 Juni 2025 di Desa Pamandati, Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan.
Digelar oleh Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (FESPATI) Sultra, event ini menjadi pintu gerbang menuju panggung nasional Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VIII. Lebih dari sekadar turnamen, ini adalah ajang seleksi resmi untuk menjaring para pemanah terbaik yang akan mewakili Sultra di tingkat nasional.
“Ini adalah momentum penting untuk menunjukkan potensi atlet panahan tradisional kita. Kami membuka ruang untuk semua, dari usia dini hingga dewasa, agar bisa berkontribusi membawa nama Sultra di FORNAS VIII,” ujar Ketua Panitia, Randi Jufril, Rabu, 29 Mei 2025.
Turnamen ini membuka tujuh kategori kompetisi:
- U12 Putra & Putri: 10 meter
- U18 Putra & Putri: 20 meter
- Umum Putra: 30 meter
- Umum Putri: 25 meter
- Hunting Challenge – kategori spesial dengan tantangan berburu ala tradisi!
Para juara 1 hingga 4 di setiap kategori akan membawa pulang uang pembinaan, sertifikat, serta kesempatan mewakili Sultra di FORNAS VIII 2025.
“Panahan tradisional bukan hanya soal teknik, tapi juga soal adab, konsentrasi, disiplin dan warisan budaya. Lewat event ini, kita ingin menanamkan nilai-nilai itu kepada generasi muda,” tambah Randi.
Pendaftaran dibuka hingga Selasa, 24 Juni 2025 pukul 21.00 Wita atau lebih cepat jika kuota sudah penuh. Peserta bisa mendaftar secara daring melalui link berikut:
🔗 Formulir Pendaftaran
Event ini didukung oleh puluhan komunitas panahan tradisional se-Sultra, serta sejumlah mitra seperti panjikendari.com, Rumah Gigi Ichro, Aida Printing, HIPMAL, Arrow Maker AK47, Rajaika Evanderdan hingga komunitas pemanah setiap Pengcab Fespati, mulai dari Pengcab Kota Kendari, Pengcab Konawe Selatan, Pengcab Wakatobi, Pengcab Konawe, dan Pengcab Bombana.
“Kami sangat terbuka terhadap partisipasi lintas daerah dan komunitas. Semakin banyak yang terlibat, semakin besar peluang kita melahirkan atlet-atlet tangguh dari Bumi Anoa,” tutup Randi.
Turnamen ini bukan sekadar pertandingan, tapi ajang mempererat persaudaraan, memperkuat tradisi, dan melangkah bersama ke panggung nasional. (*)






