KENDARI – Di ruang sederhana sebuah sekolah madrasah di Kendari, seorang siswa kelas XII bernama Iskandar Zulqarnain tampak sibuk menyiapkan berkas lomba. Dalam lembaran itu tersimpan mimpi besar: mewakili Sulawesi Tenggara di Olimpiade Bahasa Arab ke-8 (OBA 8) Tingkat Nasional yang akan digelar di UPT Asrama Haji Embarkasi Jakarta, 13–15 November 2025.
Izul – sapaan akrabnya – baru saja menorehkan prestasi membanggakan, yakni, Juara 1 Olimpiade Bahasa Arab tingkat provinsi, setelah sebelumnya juga menjuarai ajang yang sama di tingkat kota. Ketekunannya mempelajari bahasa Arab sudah tampak sejak duduk di madrasah. Ia dikenal sebagai siswa yang tekun, santun, dan rendah hati.
Namun di tengah kabar bahagia itu, ada kisah lain yang menggetarkan hati. Iskandar masih berjuang menyiapkan biaya keberangkatan ke Jakarta. Pihak sekolah telah memberi izin dan dukungan penuh, namun seluruh biaya penginapan dan konsumsi selama kegiatan serta biaya transportasi, harus ditanggung pribadi.
Ayahnya, seorang guru SD di kampung, mengetahui rencana besar sang anak. Ia hanya bisa mendukung dari jauh dengan doa dan semangat.
“Saya tahu dia ingin sekali berangkat. Kalau soal kemampuan, saya yakin. Hanya saja kami sedang berusaha dulu bagaimana caranya,” tutur sang ayah pelan.
Meski menghadapi keterbatasan, semangat Izul tidak surut. Ia terus berlatih setiap hari, menghafal kosakata dan memperdalam kaidah bahasa Arab.
“Saya ingin bisa tampil, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membawa nama madrasah dan Sulawesi Tenggara,” ujar Izul lirih.
Dengan waktu pendaftaran yang akan ditutup pada 8 Oktober 2025, Izul berharap ada perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah terhadap para pelajar berprestasi seperti dirinya.
“Mungkin bukan hanya saya, tapi juga banyak teman-teman lain yang punya semangat yang sama. Kami ingin membawa nama daerah, tapi kadang terkendala di hal-hal sederhana seperti biaya,” kata Izul dengan nada pelan.
Harapan itu masih menyala. Di tengah segala keterbatasan, Izul percaya bahwa ilmu dan cita-cita tak seharusnya berhenti hanya karena keadaan. (*)








