KENDARI, Panjikendari.com – Puluhan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar aksi unjuk rasa pada Senin, 21 April 2025. Mereka menuntut perhatian serius dari pihak fakultas terhadap kondisi fasilitas kampus yang dinilai tidak memadai.
Aksi yang digelar di depan Gedung Dekanat FKIP itu diikuti oleh perwakilan dari berbagai jurusan, serta diakomodir oleh para Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP. Para peserta menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya keterbukaan dana anggaran kemahasiswaan serta perbaikan sarana dan prasarana pendukung perkuliahan.
“Tuntutan ini bukan hal baru. Sudah pernah kami suarakan tahun lalu, tapi belum ada realisasi nyata. Ruangan kuliah masih minim, bahkan ada yang tak punya ruang tetap. Belum lagi kasus pencurian helm, motor, hingga knalpot yang terus terjadi,” ungkap Muhammad Syahrul Firmansyah, mahasiswa Ilmu Keolahragaan (IKOR) yang menjadi salah satu orator aksi.
Tak berselang lama setelah aksi dimulai, Dekan FKIP UHO Dr. Damhuri, S.Pd., M.P., turun menemui massa aksi dan mengajak perwakilan mahasiswa untuk berdialog melalui rapat dengar pendapat (RDP) di ruang senat FKIP. Mediasi itu turut dihadiri Wakil Dekan I Prof. Dr. Aris Badara, S.Pd., M.Hum., Wakil Dekan II Dr. Syahbudin, S.H., M.Hum., Wakil Dekan III Prof. Dr. Edy Karno, S.Pd., M.Pd., serta sejumlah ketua jurusan.
Dalam pertemuan tersebut, pihak dekanat berjanji akan menindaklanjuti seluruh keluhan mahasiswa secara bertahap. “Kami berkomitmen menyegerakan penyelesaian permasalahan yang disampaikan, tentu menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Kami juga akan menertibkan kembali jadwal perkuliahan agar tidak bertabrakan,” ujar Dr. Damhuri.
Ketua BEM FKIP UHO, Immawan Ferli, menyayangkan lambatnya respons pimpinan fakultas terhadap berbagai persoalan yang telah lama disuarakan. Ia menyebut bahwa aksi ini dilakukan karena surat permohonan audiensi sebelumnya tak kunjung direspons.
“Demonstrasi ini adalah bentuk kekecewaan kami. Surat audiensi yang kami kirimkan tidak mendapat tanggapan menyeluruh, bahkan hanya Wakil Dekan III yang sempat menemui kami. Maka kami menolak bertemu tanpa kehadiran lengkap seluruh pimpinan. Sekalipun sudah ada kesepakatan dalam RDP, kami akan terus mengawal agar semua janji benar-benar ditunaikan,” tegasnya.
Aksi damai ini menjadi penanda bahwa mahasiswa FKIP UHO tidak tinggal diam terhadap kondisi kampus mereka. Mereka menegaskan bahwa pimpinan fakultas bukan hanya simbol kelembagaan, tetapi pilar utama dalam menjamin mutu dan kenyamanan proses pendidikan. (*)
Reporter: Abar








