Kendari, Panjikendari.com — Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo (UHO) bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kota Kendari melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kolaborasi Nasional bertajuk “Peningkatan Produksi Ternak Sapi/Kambing Terintegrasi dengan Sistem Pertanian.”
Kegiatan yang digelar di Kelompok Tani Nanga-Nanga Makmur, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari ini diikuti puluhan petani dan peternak dengan antusias tinggi.
Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Muh. Amrullah Pagala, S.Pt., M.Si., IPM, ASEAN Eng., dosen Fakultas Peternakan UHO sekaligus Ketua Tim Pengabdian, dengan dukungan jajaran akademisi dan teknisi pertanian dari universitas serta pemerintah daerah.
Tim pengabdian terdiri atas Prof. Dr. Ir. Harapin Hafid, S.Pt., M.Si., IPU, ASEAN Eng., Dr. Ir. Andi Murlina Tasse, M.Si., Dr. La Ode Muh. Munadi, S.Pt., M.Pt., serta La Ode Jabuddin, S.P., M.P., kandidat doktor bidang Kebijakan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan.
Dari unsur Dinas Pertanian Kota Kendari turut hadir Hardiana, S.Pt. (Tim Teknis), para penyuluh, dan H. Ahmad Fajar, S.P., M.Si., Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kambu, yang mewakili Dinas Pertanian. Ketua Kelompok Tani Nanga-Nanga Makmur, Nasir, juga menyambut hangat pelaksanaan kegiatan tersebut.
Sesi I: Manajemen Pemeliharaan Ternak Intensif
Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Harapin Hafid, S.Pt., M.Si., IPU., ASEAN Eng., yang membawakan topik “Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Secara Intensif (Kambing dan Sapi).”
Dalam paparannya, Prof. Harapin menegaskan bahwa sistem pemeliharaan intensif dapat meningkatkan produktivitas ternak melalui pengawasan menyeluruh terhadap pakan, kesehatan, dan reproduksi.
“Keberhasilan beternak sangat bergantung pada manajemen. Mulai dari bibit unggul, pakan berkualitas, sanitasi kandang, hingga penanganan penyakit, semuanya harus terencana dengan baik,” ujarnya.
Peserta juga dikenalkan dengan jenis kambing unggulan seperti Kambing Kacang, Peranakan Etawa, dan Boer, serta diajarkan teknik pembuatan pakan silase untuk menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun. Menurutnya, sistem intensif akan mendukung efisiensi produksi ternak sekaligus meningkatkan pendapatan peternak daerah.
Sesi II: Pelatihan Pengolahan Pupuk Organik
Materi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Muh. Amrullah Pagala, S.Pt., M.Si., IPM, ASEAN Eng., yang menyoroti pentingnya pupuk organik dalam menjaga keseimbangan unsur hara tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.
Ia mengungkapkan bahwa 95 persen lahan pertanian di Indonesia memiliki kadar C-organik di bawah 1 persen, padahal idealnya minimal 4–5 persen.
“Pupuk organik bukan hanya solusi ramah lingkungan, tapi juga cara membangun kemandirian petani. Dengan memanfaatkan limbah ternak dan pertanian, mereka bisa menciptakan pupuk sendiri tanpa ketergantungan pada produk kimia,” jelas Prof. Amrullah.
Dalam sesi praktik, peserta dilatih membuat pupuk organik padat dari feses kambing menggunakan bahan sederhana: 12 kg feses kambing, 6 kg sekam bakar, 2 kg dedak, larutan bakteri Effective Microorganisms (EM4), larutan gula, dan air bersih secukupnya
Campuran tersebut diaduk merata, disiram EM4 hingga lembab 40%, ditutup terpal selama seminggu, lalu diaerasi dan dibiarkan tiga minggu hingga matang.
Pupuk yang baik ditandai warna hitam keabu-abuan, tekstur lembut, dan aroma tanah alami.
“Langkah sederhana ini mampu mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi tinggi. Pupuk organik yang dihasilkan bisa digunakan sendiri atau dijual,” tambah Prof. Amrullah.
Pertanian Zero Waste: Efisien dan Menguntungkan
Konsep utama kegiatan ini adalah penerapan pertanian-peternakan terpadu berbasis zero waste, yakni sistem yang saling memanfaatkan antara sektor pertanian dan peternakan tanpa menghasilkan limbah.
La Ode Jabuddin, S.P., M.P., anggota tim dari UHO, menjelaskan bahwa pendekatan ini mampu meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan petani.
“Pertanian zero waste menciptakan siklus produksi tanpa limbah. Sisa panen menjadi pakan ternak, limbah ternak jadi pupuk. Dengan biaya yang lebih efisien, petani dapat memperoleh keuntungan lebih besar,” katanya.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga petani di tingkat akar rumput.
Dukungan Program Wali Kota Kendari: “Kendari Berkebun”
Dalam sambutannya, H. Ahmad Fajar, S.P., M.Si., Koordinator BPP Kambu yang mewakili Dinas Pertanian Kota Kendari, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan PKM Kolaborasi Nasional ini.
“Kegiatan ini sejalan dengan Program Kendari Berkebun yang digagas Wali Kota Kendari. Tujuannya memperkuat ketahanan pangan keluarga, memanfaatkan lahan pekarangan, dan pada akhirnya mengurangi pengeluaran rumah tangga,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan semacam ini adalah bukti nyata sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mewujudkan kemandirian pangan berkelanjutan di Kota Kendari.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Nanga-Nanga Makmur, Nasir, menyampaikan rasa syukur dan antusiasmenya.
“Kami merasa mendapat ilmu baru yang bisa langsung kami terapkan. Ini bukan hanya pelatihan, tapi awal perubahan menuju petani yang mandiri,” ujarnya penuh semangat. (*)






