Di balik belantara Papua yang menyimpan sejuta harapan dari tanah emas, kisah kelam kembali terukir. Kali ini, tiga sepupu dari Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi bagian dari tragedi berdarah di Yahukimo. Mereka adalah Yuda Lesmana, Ricky Rahmat, dan Asran. Ketiganya datang jauh dari kampung halaman untuk bekerja sebagai pendulang emas. Namun, hanya satu yang berhasil pulang dengan selamat—Asran. Sementara Yuda ditemukan tak bernyawa, dan Ricky hingga kini belum diketahui nasibnya.
Peristiwa itu terjadi pada tanggal 6 hingga 7 April 2025. Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menyerang para pendulang emas di Yahukimo. Dalam insiden itu, sebanyak 13 orang dilaporkan menjadi korban keganasan KKB. Satu di antaranya adalah Yuda Lesmana, warga kelahiran Desa Puday, Kecamatan Wonggeduku Barat, Kabupaten Konawe.
Camat Wonggeduku Barat, Tira Liambo, saat dihubungi membenarkan foto identitas Yuda yang beredar di media sosial. “Benar, korban Yuda merupakan warga Desa Puday yang menikah di Kecamatan Sawa, Konawe Utara. Dia sudah bekerja sebagai pendulang emas di Yahukimo sejak tahun 2018,” ujar Tira, Jumat (11/4/2025).
“Sekarang kita masih menunggu informasi. Mereka bilang jenazah korban mau dipulangkan ke Puday,” lanjutnya.
Selain Yuda yang lebih dahulu berangkat sejak 2018, adiknya yang bernama Ricky juga ikut ke Yahukimo untuk mendulang emas. Ia baru menyusul sang kakak usai Lebaran tahun ini. Namun, hingga berita ini ditulis, keberadaannya masih misterius.
“Waktu lebaran kemarin, Ricky dia ikut kakaknya karena hasilnya bagus. Tapi sampai sekarang belum diketahui keberadaannya,” ujar Camat.
Satu-satunya yang berhasil selamat dari peristiwa tragis itu adalah Asran, sepupu Yuda dan Ricky, asal Desa Baruga, Kecamatan Wonggeduku Barat. Kisah pelariannya sungguh mengguncang hati.
Menurut Aan, kerabat mereka di Konawe, Asran saat itu berada di lokasi berbeda dengan Yuda dan Ricky. Namun pada hari pertama penyerangan, rombongan pendulang tempat Asran berada juga menjadi sasaran. “Yang pertama diserang hari Senin itu kelompok tempat Asran. Tapi Alhamdulillah dia berhasil lari,” kata Aan kepada wartawan Muarasultra.com.
Tanda bahaya pertama datang dari suara gonggongan anjing yang tak biasa. Bagi mereka yang sudah lama tinggal di pedalaman Papua, itu bukan hal sepele. Itu pertanda pasukan bersenjata sedang mendekat. Tak lama kemudian, suara letupan senjata menggelegar di udara. Asran dan beberapa pendulang lainnya langsung kabur tanpa sempat membawa barang apapun.
“Mereka lari dalam kondisi hanya memakai pakaian di badan. Tiga hari dua malam mereka berjalan kaki, menyusuri hutan dan sungai, bahkan harus naik katinting untuk mencapai pemukiman,” ujar Aan.
Asran tiba di Yahukimo dalam kondisi panik dan luka-luka. Meski tidak terkena tembakan, tubuhnya penuh luka gores akibat pelarian di hutan. Ia langsung diarahkan ke Polsek setempat untuk memberikan keterangan.
“Sampai di rumah itu dia sangat syok, tidak mau bicara. Nanti beberapa jam setelah kejadian baru dia telepon dan ceritakan semuanya. Kami sekeluarga langsung menangis,” kata Aan dengan suara berat.
Kisah ini menjadi potret pilu tentang anak-anak daerah yang pergi jauh demi menyambung hidup. Mereka bukan hanya kehilangan harapan, tapi juga kehilangan keluarga. Kini, keluarga besar Yuda, Ricky, dan Asran hanya berharap satu hal: semoga Ricky segera ditemukan, dan jenazah Yuda bisa kembali ke kampung halaman, ke tanah yang pernah ia tinggalkan demi sebutir emas dan secercah harapan. (*)
Berita ini telah tayang di muarasultra.com yang disusun ulang oleh redaksi panjikendari.com.








