Belum kering air mata atas tragedi bunuh diri remaja di Jembatan Teluk Kendari, publik kembali dikejutkan bukan dengan solusi, tapi dengan aksi mistik yang memilukan akal dan iman kita sebagai seorang muslim. Dalam video yang ramai dibagikan warga net, terlihat dengan jelas sekelompok orang melemparkan telur ayam ke laut dari atas speedboat. Konon, ini untuk “mengusir roh halus” atau “menangkal kutukan.” Kok bisa hal begini masih dipercayai ditengah arus masif digitalisasi dan perkembangan AI saat ini.
Lebih ironis lagi, beberapa tokoh masyarakat malah ikut-ikutan. Bukan untuk menghentikan praktik itu, tapi seolah membenarkan. Padahal, tindakan ini jelas-jelas bentuk kesyirikan yang terang benderang bukan tradisi tapi penyimpangan yang sangat berbahaya.
Ketika sistem kehidupan tidak dibangun di atas akidah yang lurus, keputusasaan selalu mencari jalan pintas entah bunuh diri atau kembali pada kesesatan. Jembatan Teluk itu kini berdiri kokoh sebagai ikon keduanya. Di satu sisi, tempat nyawa-nyawa muda melayang karena tak kuat menanggung hidup. Di sisi lain, jadi altar baru untuk ritual takhayul.
Masalah utamanya bukan semata bunuh diri anak muda. Masalahnya adalah sistem sekuler yang hari ini membentuk masyarakat menjadi rapuh secara mental dan spiritual. Anak-anak tumbuh tanpa arah, tanpa makna, tanpa pendidikan ruhiyah yang menancapkan keimanan kokoh. Lalu saat tragedi terjadi, masyarakat bukan mengoreksi sistem yang menjadi akar masalah, tapi mencari “roh jahat” untuk disalahkan.
Pertanyaannya, apa iya solusi masalah ini hanya sebatas ritual lempar telur? Bukan penanganan psikologis, bukan pendidikan tauhid, tapi mistik?
Inilah puncak ironi umat Islam di negeri mayoritas Muslim ini. Kita disesatkan dua kali. Pertama oleh sistem sekuler yang memutus hubungan manusia dengan Allah dan kedua oleh praktik syirik yang memadamkan cahaya iman dalam diri umat
Negara hadir lewat spanduk-spanduk bertuliskan “jangan bunuh diri”, bukan lewat kurikulum tauhid yang menyentuh jiwa anak-anak. Sementara sebagian ulama sibuk mengurai perbedaan fiqih, tetapi lupa membentengi umat dari gelombang syirik massal.
Islam, sebagai ideologi yang mampu mengatur kehidupan, punya cara membangun generasi kuat bukan generasi putus asa. Dalam sistem Islam, pendidikan ruhiyah adalah fondasi utama. Anak-anak diajarkan sejak dini tentang makna hidup, tujuan hidup, dan bahwa musibah adalah qadha Allah, bukan kutukan. Dalam atmosfer keimanan seperti inilah daya tahan hidup dibentuk bukan lewat budaya mistik dan mitos.
Lebih jauh, Islam juga memutus akar sistemik keputusasaan dengan menyelesaikan tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, dan ketidakpastian hidup. Dalam sistem Islam, negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyatnya seperti makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan termasuk keamanan jiwa. Ini bukan jargon, tapi kewajiban yang perlu hadir dan ditunaikan.
Maka hari ini, kita harus berani berkata bahwa umat tak butuh telur untuk solusi problematika keputusasaan generasi tapi umat butuh tauhid. Umat tak butuh mistik. Umat butuh sistem kehidupan yang menghidupkan jiwa.
Jangan biarkan Jembatan Teluk Kendari berubah jadi tempat “keramat” karena umat malas berpikir dan enggan kembali kepada Islam Kaffah. (*)
Penulis: La Ode Mahmud






