(Ketika) Tuhan Menabur Benih Kahawa di Bumi Sowite

- Penulis

Rabu, 26 September 2018 - 10:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


				Penulis (kanan) bersama pegiat Kahawa sedang menerapkan teknik mocapot, teknik mengelola Kahawa jadi minuman seduh.

i

Penulis (kanan) bersama pegiat Kahawa sedang menerapkan teknik mocapot, teknik mengelola Kahawa jadi minuman seduh.

panjikendari.com – Sore itu, perjalanan kami terhenti di sebuah desa penjuru Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Rasa penat perjalanan sekitar sejam dari Kota Raha menuju Tongkuno Selatan terbayarkan setelah melihat biji kopi yang memerah.

Seharusnya masa panen telah tiba, akan tetapi masyarakat di Muna belum memahami benar jika yang mereka kenal dengan nama Kahawa ini menjadi tren minuman di dunia yang tak mengenal masa.

Aroma harum Kahawa adalah yang terbaik, setidaknya demekian pengakuan beberapa teman yang pernah menyeruput seduhan dengan pengelolaan manual yang dilakukan ‘emak-emak’ di tanah Para Sugi ini.

Sebelum swasembada mete di jazirah Muna, kahawa tumbuh dengan sangat suburnya. Sayangnya, tidak mampu mendongkrak ekonomi masyarakat, menjadi pertimbangan tersendiri tanaman itu harus menjadi pilihan kedua. Maola Daud yang menahkodai Muna di era tahun 1982 memerintahkan masyarakat Muna mengganti Kahawa dengan tanaman jambu mete.

Akan tetapi Kahawa yang telah tumbuh puluhan tahun, tidak lantas punah di tanah Kabarakati ini. Masih ada yang dibiarkan tumbuh, sekadar diolah menjadi minuman menemani sanggara di pagi hari. Kondisi itu berlangsung hingga beberapa dekade dan seolah tersembunyi dari sergapan pemburu Kopi di dunia.

Tidak adanya cerita pasti, kapan Tuhan menaburi benih Kahawa ini di Bumi Sowite –julukan Kabupaten Muna–, kendati ada yang meyakini, jika Kahawa masuk bersamaan dengan penyebaran masuknya penyiar Islam pada abad 15, tetapi ada versi lain jika Kopi dibawa langsung oleh pemerintah Belanda pada masa tanam paksa.

Minuman Kaum Bangsawan

Di banyak daerah, orang memiliki banyak cara meminum kopi. Minum Kopi secara tradisional lebih ada sensasinya dibandingkan minum kopi moderen. Selain kopi lokal lebih punya rasa takhik, seruput juga menyimpan keunikan.

Di daerah Bandung ada yang dikenal dengan cara minum tradisional tatakan
yakni cara menikmati kopi yang cukup unik dengan cara diseruput dari tatakan (piringan/alas-red) gelasnya. Kopi tatakan disajikan dengan bentuk gelas yang dibuat terbalik, sebagian kopi tampak menyebar di bagian tatakannya

Tatakan adalah salah satu contoh minum kopi yang ada di Nusantara. Hal ini memberi isyarat jika ‘ngopi’ adalah tradisi sejak lama dan terus dilesatarikan dalam kemasan budaya dan tradisi masyarakat.

Baca Juga  Petani di Ambang Ketidakpastian: Suara Lantang dari Kendari Menyambut Era Bebas Impor

Lalu bagaimana dengan cara masyarakat Muna menikmati Kahawa? Dahulu kahawa dinikmati menggunakan  ‘kaghua’ atau cangkir minum yang terbuat dari tempurung kelapa yang diukir dan dihaluskan hingga bersih.

Hanya saja, tradisi ‘ngopi’ pada masa lampau hanya dilakukan oleh kaum bangsawan. Kahawa hanya menjadi minuman kamali.

“Kahawa diminum, biasanya dengan menggunakan gula aren, jadi dihidangkan cangkir kahawa dengan potongan gula, usai kahawa diminum barulah gula digigit,” cerita Kepala Dinas Pariwisata Muna, Amiruddin Ako, pada suatu kesempatan.

Banyak yang menduga, kahawa adalah minuman elit di Kerajaan Muna pada masa itu, sehingga bisa dipakai dalam mengukur tingkat strata sosial dan ekonomi melalui ada tidaknya hidangan kahawa pada saat tertentu.

Karena Kahawa hanya menjadi suguhan bagi para bangsawan kala itu sehingga tradisi ngopi tidak membudaya di tengah masyarakat biasa.

Tumbuh Banyak Varian Langkah

Pernah dengar Kopi Liberika? Jenis kopi ini merupakan salah satu varian yang berasal dari Afrika, tepatnya Liberia dan Afrika Barat. Dari jenisnya, kopi ini memiliki tekstur biji yang kecil dan tidak beraturan. Sekilas, kopi ini menyerupai kopi kebanyakan yang tumbuh di Muna.

Hanya saja, perlu dilakukan pengujian lebih lanjut, namun keunikan Kahawa Muna, sejarah masuknya, rasa dan aroma Kahawa dan liberika memiliki banyak kesamaan. Varian kopi Liberika sendiri merupakan yang termahal dibanding hampir 50 jenis kopi lainnya di muka bumi.

Selain liberika, Kopi lanang juga tumbuh di pulau ini. Jenis robusta langkah ini, memiliki biji utuh dan juga berukuran kecil.

“Kopi lanang ini, bentuknya bulat utuh dan hidup di daerah Jambi tepatnya Kecamatan Tungkal Sumatera, itupun tidak semua daerah Sumatera ditumbuhi jenis ini,” ujar Novrizal, penggiat Kahawa.

Kopi Lanang asal Muna
Kopi lanang asal Muna.

Tumbuhnya varian langkah ini dipercaya, Muna bakal menjadi kiblat kopi baru apalagi didukung keunikan tekstur tanah daerah kards.

Tuhan menganugerahi potensi luar biasa di Muna, sehingga dibutuhkan keseriusan dalam mengelolah dan mengembangkan potensi ini. Mungkin Tuhan menabur benih kahawa langsung di tanah Muna. (**)

Penulis: Maul Gani

Facebook Comments

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seleksi Ketat PT Tiran Indonesia Hasilkan 38 Tenaga Kerja Terbaik di Konawe Utara
Pemprov Sultra Perkuat Kebijakan Berbasis Data, Dukung Sensus Ekonomi 2026
Tiran Nusantara Grup Gelar Tiranovation Challenge 2026, Lahirkan Inovasi Karyawan Berbasis Solusi
VinFast Tancapkan Langkah Global, Bidik Lima Negara untuk Ekspansi Skuter Listrik
Puluhan Driver Maxim Kendari Gelar Donor Darah untuk Perkuat Stok PMI Sultra
Banjir Teratasi, 72 Keberangkatan Kereta Api dari Daop 1 Jakarta Normal 100 Persen
KAI Daop 2 Bandung Himbau Masyarakat Tertib Berlalu Lintas di Perlintasan Sebidang
Dari Karya ke Aksi Nyata: Caleb, Siswa BINUS SCHOOL Simprug Ajak Generasi Muda Peduli Lingkungan dan Satwa Langka Indonesia

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 08:15 WITA

Seleksi Ketat PT Tiran Indonesia Hasilkan 38 Tenaga Kerja Terbaik di Konawe Utara

Rabu, 1 April 2026 - 21:33 WITA

Pemprov Sultra Perkuat Kebijakan Berbasis Data, Dukung Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 31 Maret 2026 - 18:00 WITA

Tiran Nusantara Grup Gelar Tiranovation Challenge 2026, Lahirkan Inovasi Karyawan Berbasis Solusi

Selasa, 3 Februari 2026 - 13:57 WITA

VinFast Tancapkan Langkah Global, Bidik Lima Negara untuk Ekspansi Skuter Listrik

Selasa, 3 Februari 2026 - 13:15 WITA

Puluhan Driver Maxim Kendari Gelar Donor Darah untuk Perkuat Stok PMI Sultra

Berita Terbaru