Panjikendari.com, Raha – Tim pasangan calon bupati dan wakil bupati Muna, La Ode M Rajiun Tumada dan H La Pili (RaPi) meminta kepada kubu petahana untuk menghentikan segala bentuk tindakan provokatif yang dapat memicu kerawanan sosial jelang Pilkada Muna 2020.
Permintaan ini disampaikan juru bicara paslon RAPI, Wahidin Kusuma Putra, menyusul adanya insiden yang terjadi di Desa Labaha, Kecamatan Watopute, Kamis malam, 12 November 2020.
Wahidin menuturkan, sekitar pukul 20.45 Wita Kamis tadi malam, rombongan massa kampanye paslon RAPI yang hendak pulang ke Raha kembali mendapatkan perlakuan profokasi oleh orang-orang yang diduga pendukung paslon petahana, LM Rusman Emba – Bachrun.
“Saat melintasi Desa Labaha, Kecamatan Watopute, Rombongan RaPi kembali ditahan dan dilempari batu oleh sekelompok orang yang sedang berada di Posko ReBah, sehingga menyebabkan beberapa orang luka-luka,” kata Wahidin.
Tidak terima dilempari batu, lanjut Wahidin, rombongan konvoi langsung berhenti dan mengejar para pelaku pelemparan.
Wahidin menyebut, kelompok yang diduga pendukung paslon sebelah ini sengaja didesain untuk memancing kerusuhan di Pilkada Muna. Menurutnya, cara kerja para pelaku hampir sama dengan pelaku-pelaku sebelumnya. Mereka memprovokasi rombongan kampanye Rajiun – La Pili dengan melakukan pelemparan Batu dan pemblokiran jalan.
“Saya sudah katakan berulang kali. Ini mereka mendesain kerusuhan agar semakin meluas. Kerusuhan di depan Toko Nusantara, diawali oleh orang-orang yang diduga pendukung Rusman melakukan pelemparan batu. Di Mitsumi, mereka blokir jalur jalan nasional dan melakukan pelemparan batu ke rombongan RaPi. Di Kabangka, kembali terjadi pemblokiran jalan namun cepat diatasi sebab pendukung mereka di sana hanya sedikit. Di Mabes RaPi mereka juga membuat provokasi dengan melempari Mabes RaPi.”
“Nah, semalam di Desa Labaha, pola yang mereka gunakan tetap sama yaitu dengan melakukan aksi pelemparan batu,” katanya.
Berkaitan dengan deretan kejadian yang bermula dari provokasi kelompok sebelah, Wahidin menegaskan, pihaknya sudah sangat kesal dengan segala bentuk provokasi tersebut.
Namun sampai saat ini, kata dia, kelompok RaPi terus mencoba menahan diri untuk menghindari kerusuhan dalam skala yang lebih besar dan merusak marwah demokrasi dalam proses Pilkada Muna 2020 ini.
Wahidin menyampaikan, terjadinya kerusuhan dan gangguan keamanan bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penundaan Pilkada. Penundaan Pilkada akan menjadi pilihan akhir bagi kandidat yang sudah mulai merasakan besarnya potensi kekalahan.
Namun, bagi Wahidin, agak sulit untuk menjalankan skenario ini karena butuh kerja sama dengan pihak-pihak terkait, seperti, aparat keamanan serta dukungan dari pihak penyelenggara.
Wahidin berharap agar aparat kepolisian untuk tidak menjadi alat politik kandidat tertentu. “Kepolisian harus menjaga netralitas dalam Pilkada. Jangan terpengaruh dengan tekanan dari pihak tertentu. Jika ada prorokator segera ditangkap, agar bisa memberi efek jera pada para pelaku yang selalu memprovokasi keadaan di lapangan,” tegasnya.
Selain itu, demi tetap menciptakan suasana yang damai dan aman Wahidin meminta Paslon Rusman Emba-Bachrun untuk menertibkan para pendukungnya dan berhenti memprovokasi masyarakat dengan informasi dan cara-cara sesat saat melakulan kampanye politik.
“Mari kita sambut Pilkada Muna ini dengan menciptakan suasana aman dan damai, jangan provokasi masyarakat, jangan korbankan masyarakat hanya untuk kepentingan tertentu,” ajaknya.
Wahidin juga mengimbau kepada para pendukung dan simpatisan pasangan RAPI untuk tidak terpancing dengan ulah kelompok sebelah yang memang terkesan ingin menyulut.
“Pasangan RAPI saat ini terus berada di atas angin, berdasarkan hasil survei beberapa lembaga dan survei internal parpol. Olehnya itu, kepada para pendukung dan simpatisan RAPI untuk tidak melayani provokasi yang bermuara pada kerusuhan dan berujung pada penundaan Pilkada,” pesannya. (Erwino)








