Kendari, Panjikendari.com – Prestasi membanggakan datang dari Bumi Anoa. Tiga atlet panahan tradisional asal Sulawesi Tenggara (Sultra) akan mewakili Indonesia dalam ajang internasional bergengsi 13th Conquest Cup Fetih Kupasi yang akan digelar di Istanbul, Turki, pada 25–29 Mei 2025.
Mereka adalah Al Junar dari klub panahan Archery Konawe Inehe, Suburhan Abudayen dari Konawe Sunnah Sport (KSS), dan Syafrul dari Mekongga Horsebow Archery (MHA), Kabupaten Kolaka. Ketiganya berangkat sebagai bagian dari kontingen Indonesia yang direkomendasikan oleh PATIH Archery Indonesia, organisasi panahan tradisional nasional yang berada di bawah naungan KORMI (Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia).
Keikutsertaan mereka menjadi penanda bahwa Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar dalam olahraga tradisional, khususnya panahan gaya horsebow yang kini makin diminati anak-anak muda di berbagai daerah.
Dalam keterangannya, Al Junar menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas dukungan dari berbagai pihak. “Alhamdulillah, terima kasih banyak kami ucapkan atas support dan sponsor, khususnya kepada PATIH Indonesia, Bapak Keniyuga Permana selaku Pembina Archery Konawe Inehe, UNILAKI Kab. Konawe, Keluarga Besar Konawe Inehe, Keluarga Besar Batauga, Keluarga Kel. Lawulo Kecamatan Anggaberi, Teras Hijrah Kendari, dan seluruh teman-teman ikhwan. Jazakumullahu khairan katsiran,” ucap Junek –sapaan akrab Al Junar.
Junek juga menyampaikan harapannya agar ke depan ada perhatian serius dari pemerintah, terutama Bupati Konawe H. Yusran Akbar dan Gubernur Sultra Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka. “Semoga ini jadi langkah awal agar pemerintah melihat potensi besar olahraga sunnah di daerah,” ujarnya.
Senada, Suburhan Abudayen menekankan pentingnya pembinaan generasi muda melalui panahan sunnah. “Kami di Konawe Sunnah Sport (KSS) terus berusaha mengembangkan olahraga ini sebagai sarana membentuk karakter generasi muda. Tidak sekadar fisik, tapi juga spiritual. Kami harap pemerintah memberi dukungan konkret untuk pengembangan olahraga ini di Sultra,” kata Suburhan.
Sementara itu, Syafrul dari Mekongga Horsebow Archery Kolaka, menyatakan kebanggaannya bisa membawa nama Sultra di ajang dunia. “Ini bukan hanya soal bertanding. Ini tentang mengenalkan jati diri daerah lewat olahraga yang bernilai budaya dan keislaman. Kami dari Kolaka siap terus membina atlet muda agar olahraga ini semakin berkembang.”
Keikutsertaan ketiga atlet ini di Istanbul bukan hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga peluang besar untuk mengangkat nama Sulawesi Tenggara di kancah internasional. Mereka membawa semangat SULTRA MEAMBO, bahwa dari tanah Anoa, anak-anak panah bisa melesat hingga panggung dunia. (*)
Editor: Jumaddin








