panjikendari.com – Stasiun Geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari mencatat, selama bulan Januari Sulawesi Tenggara (Sultra) diguncang gempabumi sebanyak 59 kali di Sulawesi Tenggara (Sultra). Itu terekam oleh alat seismograf TDS 5.2.

Hal itu disampaikan Kepala Stasiun Geofisika BMKG Kendari, Rosa Amelia. Data gempa tersebut selanjutnya dianalisa dengan program DataPro dan diperoleh gempabumi dengan magnitudo lebih kecil dari 3 SR sebanyak 11 kejadian, gempabumi dengan magnitudo 3 SR hingga lebih kecil dari 5 SR tercatat 28 kejadian dan gempabumi dengan magnitudo 5 SR dan di atasnya tercatat 20 kejadian.

“Sedangkan berdasarkan jarak, diperoleh gempabumi lokal dengan jarak lebih kecil hingga 2⁰ tercatat 17 kejadian dan gempabumi dengan jarak lebih besar dari 2⁰ sebanyak 42 kejadian,” terang Rosa Amelia melalui keterangan tertulisnya.

Dari total 59 kali gempa tersebut, lanjut dia, terdapat 6 kejadian gempabumi dirasakan dan dilaporkan oleh masyarakat diantaranya yaitu; tanggal 14 Januari 2019 pukul 18:21:24.1 WITA berjarak 73 Km Barat Laut Lasusua yang dirasakan pada skala II MMI di Porehu-Kolaka Utara.

Kemudian, pada tanggal 16 Januari 2019 terjadi 3 kali gempabumi dirasakan, yaitu, pukul 06:30:08.9 WITA berjarak 63 Km Barat Laut Lasusua yang dirasakan pada skala II MMI di Tolala-Kolaka Utara; pada pukul 10:39:24.7 WITA berjarak 50 Km Barat Laut Lasusua yang dirasakan pada skala III MMI di Tolala-Kolaka Utara; dan pukul 16:24:12 WITA berjarak 63 Km Barat Laut Lasusua yang dirasakan pada skala III MMI di Tolala-Kolaka Utara.

Selanjutnya, tanggal 21 Januari 2019 pukul 21:54:11.8 WITA berjarak 19 km Timur Laut Kendari yang dirasakan di Kendari, Sawa-Konawe Utara, Ranomeeto-Konawe Selatan, Batu Gong dan Toronipa, Konawe II-III MMI;

Dan tanggal 28 Januari 2019 pukul 23:07:02.3 WITA berjarak 12 Km Barat Laut Buranga yang dirasakan pada skala III MMI di Kulisusu Utara-Buton Utara.

Menurut Rosa, dari peta seismisitas Sulawesi Tenggara bulan Januari 2019 terlihat bahwa gempabumi lokal terjadi di beberapa sesar di Sulawesi Tenggara, yaitu sekitar Sesar Lawanopo di Barat Laut Lasusua, Sesar Kendari dan sesar lokal di Pulau Buton.

Lebih jauh Rosa menjelaskan, setiap kejadian gempabumi akan menghasilkan informasi seismik berupa rekaman sinyal berbentuk gelombang yang setelah melalui proses otomatis atau manual akan menjadi data bacaan fase (Phase Reading Data). Informasi seismik selanjutnya mengalami proses pengumpulan, pengolahan dan analisis sehingga menjadi parameter gempabumi.

Parameter-parameter gempabumi tersebut, kata dia, meliputi waktu kejadian gempabumi (Origin Time), lokasi episenter, kedalaman sumber gempabumi, kekuatan gempabumi (Depth), intensitas gempabumi, dan keterangan-keterangan lainnya.

“Berdasarkan jarak episenter dan selisih waktu gelombang P dan S (S-P), gempabumi digolongkan atas dua: pertama; Gempabumi lokal/regional, yaitu gempa-gempa yang jarak episenternya kurang dari 100 atau memiliki selisih gelombang P dan S kurang dari 2 menit.”

“Kedua; Gempabumi teleseismik, yaitu gempa-gempa yang jarak episenternya lebih dari 100 atau memiliki selisih gelombang P dan S lebih dari 2 menit,” pungkasnya.

Penulis: Jumaddin Arif

Beri Komentar