KONAWE SELATAN – Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Sulawesi Tenggara (Sultra) menjalin kerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) untuk menyiapkan pelatih, judge, hingga atlet. Kerja sama ini dipandang penting karena sumber daya di Bumi Anoa masih sangat terbatas.
Ketua Pordasi Sultra, Saharudin, atau akrab disapa Mr. Saha, mengungkapkan kesepakatan tersebut lahir saat Musyawarah pembentukan Pordasi Kabupaten Konawe Selatan yang berlangsung di Aula Agrowisata California, Desa Cialam Konda, Kamis (11/9/2025).
“Potensi pegiat berkuda dan memanah di Sultra sebenarnya cukup besar, hanya saja sejauh ini belum mendapat perhatian khusus. Kerja sama dengan FKIP Unsultra ini akan menjadi awal yang baik untuk mengembangkan potensi itu,” kata Mr. Saha saat ditemui di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Ia menegaskan, salah satu agenda terpenting dari kerja sama ini adalah menghadirkan pelatih berlisensi dari Jawa untuk menggelar Trainer of Trainer (TOT) atau pelatihan pelatih di Sultra. “Nanti kita datangkan pelatih berlisensi dari pusat untuk melakukan TOT, sehingga bisa melahirkan pelatih-pelatih berlisensi di daerah kita,” jelasnya.
Menurut Mr. Saha, olahraga berkuda memanah kini mulai dilirik secara internasional. Jepang, misalnya, baru-baru ini membuka kesempatan magang untuk 10 orang dengan gaji cukup besar. Namun, karena di Sultra belum ada sumber daya yang siap, kuota itu ditawarkan ke Universitas Hasanuddin (Unhas).
“Unhas malah sudah punya stable kuda. Bahkan saya pernah cerita ringan ke Pak Dekan Peternakan Unhas soal UKM Berkuda Memanah, ternyata langsung direspons dan diperintahkan dibentuk UKM. Sekarang sudah jalan,” ungkapnya.
Di Sultra sendiri, Pordasi telah terbentuk di beberapa daerah, yakni Baubau, Muna, dan Konawe Selatan. Sedangkan Bombana dan Wakatobi baru sebatas mandat. “Insyaa Allah bulan Oktober kita bentuk di Kendari,” tambahnya.
Ia juga menyoroti peluang besar bagi generasi muda, terutama pelajar SMP dan SMA. Selain jalur bebas tes masuk perguruan tinggi yang terbuka bagi mereka yang punya keterampilan berkuda dan memanah, dunia militer pun kini mulai memberikan ruang.
“Bahkan sekarang sudah ada jalur pengangkatan khusus tentara bagi mereka yang punya keterampilan berkuda. Jadi peluang anak-anak kita semakin terbuka lebar,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong agar lembaga pendidikan di Sultra ikut memanfaatkan momentum ini. “Jangan sampai kita ketinggalan. Dunia pendidikan harus berkolaborasi, karena ini bukan hanya soal olahraga, tapi juga masa depan generasi,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan FKIP Unsultra, Dr. Anidi, yang hadir mewakili Rektor dalam musyawarah tersebut, menegaskan pentingnya kolaborasi dunia pendidikan dengan organisasi olahraga. Menurutnya, sinergi ini akan membuka ruang pengembangan kurikulum, pelatihan, hingga penelitian di bidang olahraga berkuda.
“Melalui kerja sama ini, kami ingin meningkatkan kualitas mahasiswa Prodi Kepelatihan Olahraga sekaligus memperluas peran perguruan tinggi dalam pembinaan cabang olahraga berkuda di Sultra,” kata Dr. Anidi.
Dengan sinergi Pordasi dan FKIP Unsultra, ditambah program TOT dari pelatih berlisensi, Sultra diharapkan segera memiliki pelatih, judge, dan atlet berkuda memanah yang siap tampil dalam berbagai event, baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional. (*)







