Di sebuah sudut Kota Kendari, di Lorong Kristal, Anduonohu, tinggal seorang perempuan yang telah berusia kurang lebih satu abad. Namanya Nenek Nahi. Sosoknya kecil, punggungnya mulai membungkuk, wajahnya penuh dengan keriput yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang hidupnya. Tangannya yang renta dulu begitu lincah membuat kue cucur dan mendorong gerobak sayur, tapi kini, tenaga itu perlahan memudar.
Nenek Nahi adalah seorang janda. Sejak suaminya tiada, ia menjalani hidup seorang diri dengan berjualan. Ia berkeliling menjajakan kue cucur dan sayur-mayur. Setiap pagi, ia bangun lebih awal dari kebanyakan orang, menyalakan kompor tuanya, dan mulai mengolah adonan kue. Tangannya yang lemah masih terampil membuat adonan kue cucur yang kemudian digoreng hingga kecokelatan. Aroma manisnya menyebar, menjadi penanda bahwa meski usianya telah senja, semangat hidupnya tetap menyala.
Namun, kini tubuhnya tak lagi mampu bekerja seperti dulu. Gerobak arco yang dulu ia dorong dengan penuh tekad kini hanya teronggok di sudut rumah. Sayur-mayur tak lagi ia jual, kue cucur pun hanya sesekali ia buat, saat tubuhnya mengizinkan. Lebih banyak waktunya kini dihabiskan di rumah, duduk dalam keheningan, menunggu waktu berlalu dengan damai.
Bagi sebagian orang, kue cucur mungkin hanya jajanan sederhana. Tapi bagi Nenek Nahi, kue-kue itu adalah kehidupan. Dari sanalah ia mendapatkan penghasilan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, kue cucur yang ia jual adalah caranya untuk tetap merasa berguna, tetap terhubung dengan dunia yang terus berubah.
Setiap kali ia melangkah keluar rumah dengan robo dagangannya, ia tak hanya membawa kue, tetapi juga cerita, keteguhan hati, dan warisan perjuangan. Para pelanggan yang membeli darinya bukan sekadar ingin menikmati jajanan, tetapi juga ingin merasakan kehangatan yang tersimpan dalam setiap gigitan—kehangatan dari seorang nenek yang penuh kasih.
Jumat pagi tadi, 28 Februari 2025, saya menemuinya, mengantarkan sedekah beras dari pelanggan setiaku. Saya pun sempat menggenggam tangan Nenek Nahi, tak hanya merasakan kulit yang mulai menipis dan penuh kerutan, tetapi juga sejarah panjang yang terukir di sana. Setiap garis di tangannya adalah bukti dari kerja keras, pengorbanan, dan ketahanan hidup.
Tangan itu pernah menggenggam erat kehidupan, pernah merawat anak-anak, pernah menyiapkan hidangan dengan penuh kasih sayang. Kini, meski kekuatannya mulai berkurang, tangan itu tetap bergerak, tetap memberi, tetap berbagi.
Kebahagiaan sederhana terpancar di wajahnya saat melihat saya membawakannya sekarung beras kemasan 5 kg. Ia memegang kemasan beras itu dengan erat, seakan ingin memastikan bahwa itu nyata. Senyumnya merekah, matanya berbinar.
Beras itu mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang, tapi bagi Nenek Nahi, itu adalah rezeki yang sangat berarti. Dengan suara pelan dan penuh syukur, ia mengucapkan terima kasih. “Tarima kasih, elaee,” kata Nenek Nahi dengan logat khasnya. Tidak hanya kepada orang yang memberinya, tetapi juga kepada Tuhan yang masih memberinya kesempatan untuk terus bertahan.
Di usianya yang hampir 100 tahun, mungkin tak banyak yang mengenalnya, tak banyak yang tahu bagaimana ia telah berjuang sepanjang hidupnya. Tapi bagi mereka yang pernah bertemu dengannya, yang pernah merasakan hangatnya kue cucur atau melihatnya mendorong gerobak dengan tekad yang luar biasa—Nenek Nahi adalah simbol ketangguhan dan keikhlasan.
Kini, ia beristirahat. Bukan karena ia menyerah, tetapi karena waktunya untuk menikmati ketenangan telah tiba. Dan semoga, di setiap sisa harinya, selalu ada tangan-tangan baik yang menjaganya, seperti dulu ia menjaga kehidupan dengan segala daya yang ia punya. (*)
Penulis: Jumaddin (Penjual beras)








