Panjikendari.com – Tren kepemimpinan kepala daerah di Kabupaten Muna dalam kurun 20 tahun perlu menjadi pertimbangan masyarakat menentukan pemimpin berikutnya di Bumi Sowite lima tahun kedepan. Jangan sampai progres perubahan daerah sebagaimana diharapkan tidak terwujud lagi.
“Jadi, pertarungan di Pilkada Muna itu, bukan soal Rusman Emba atau Rajiun Tumada. Tetapi ini konteksnya adalah penyelamatan Muna yang selama 20 tahun masih dibayangi hegemoni Ridwan Bae,” ungkap Jurkam pasangan Rajiun-Lapili (Rapi), Umar Bonte, Sabtu, 7 November 2020.
Perspektif itu, kata dia, bisa dirunut sejak Ridwan memimpin Muna selama 10 tahun, lalu dilanjutkan LM Baharuddin yang nota bene ipar dan selanjutnya dipimpin Rusman Emba yang tak lain adalah kemenakan anggota DPR RI itu.
“Dalam konteks demokrasi, iya, semua orang berhak mengikuti konstetasi politik, tetapi dari perspektif penyelamatan Muna, jujur jangan anak atau kemenakan Ridwan, Ridwan saja tergolong masih kesulitan mendorong Muna bisa lebih baik, meski punya reputasi politik yang memadai,” tukasnya.
Selain itu, lanjut Umar Bonte, upaya mempertahankan dinasti politik itu semata-mata untuk mengamankan kebijakan gali lubang tutup lubang yang berlangsung selama 20 tahun. Kebijakan yang kurang kreatif dan mengandalkan pola pinjaman daerah justru menjadi beban serius dalam proses regenerasi kepemimpinan di Muna.
Mantan Ketua MPM UHO Kendari itu juga menilai, kali ini keterlibatan Ridwan membantu kandidat petahana Rusman Emba kembali menggunakan pola-pola lama untuk mempengaruhi masyarakat. Paling menonjol adalah janji-janji politik Ridwan melalui berbagai program baik bantuan langsung maupun bersifat pemberdayaan masyarakat.
“Yang di-sounding ke masyarakat sebenarnya tidak bisa dilegitimasi sebagai janji politik personal. Soalnya itu memang program nasional yang sudah masuk rencana pembangunan. Misalnya bedah rumah, itu program PUPR kok, termasuk program BSPS, plus ada kegiatan padat karyanya,” terang mantan anggota DPRD Kota Kendari dari P-DIP ini.
Pada kesempatan itu, Umar Bonte sedikit menanggapi pernyataan Ridwan Bae yang menyebut bahwa La Ode Rifai Pedansa merupakan panutan dalam keluarga dan bukan panutan dalam politik.
Menurut Umar Bonte, pernyataan tersebut merupakan sebuah pengakuan bahwa bapak La Ode Rifai Pedansa merupakan sosok panutan yang mampu menjaga nama baik keluarga.
“Karena memang orang tua kita pak Rifai paham betul bahwa keluarga adalah pilar bernegara, karena beliau paham bahwa keluarga yang baik mencerminkan masyarakat yang baik, masyarakat yang baik menjadi syarat terbentuknya negara yang kuat,” tutupnya sambil tersenyum. (jie)







