Jakarta, Panjikendari.com | Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang. Angka ini meningkat sebesar 83 ribu orang atau sekitar 1,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa peningkatan jumlah pengangguran ini terjadi meskipun tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara nasional mengalami sedikit penurunan.
“Tingkat pengangguran terbuka secara nasional Februari 2025 sebesar 4,76 persen, turun 0,06 persen poin dibandingkan Februari 2024. Namun, karena jumlah angkatan kerja bertambah, pengangguran juga meningkat,” kata Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/5/2025).
Di tingkat daerah, Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami kenaikan jumlah pengangguran. BPS Sultra mencatat, pada Februari 2025, jumlah pengangguran di wilayah tersebut mencapai 46.720 orang, naik 1.680 orang dibandingkan Februari 2024.
Kepala BPS Sulawesi Tenggara, M. Natsir, menyebutkan bahwa meskipun lapangan kerja bertambah, laju pertumbuhan angkatan kerja lebih tinggi dibandingkan serapan tenaga kerja.
“Tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Tenggara naik menjadi 3,27 persen, naik tipis 0,05 persen poin dari tahun sebelumnya,” ujarnya melalui siaran pers resmi.
Natsir juga menambahkan bahwa sebagian besar pengangguran di Sulawesi Tenggara justru berasal dari lulusan pendidikan tinggi. “Tingkat pengangguran Diploma I-III tercatat sebesar 5,53 persen, dan untuk lulusan sarjana sebesar 4,83 persen. Ini menunjukkan adanya mismatch antara kualifikasi pendidikan dan pasar kerja,” jelasnya.
Sementara itu, pemerintah pusat mengklaim telah menciptakan lebih dari 3,59 juta lapangan kerja baru pada awal 2025, yang disebut sebagai pencapaian tertinggi sejak krisis moneter 1998.
Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam keterangan terpisah mengatakan bahwa pemerintah terus mendorong program peningkatan keterampilan tenaga kerja, termasuk melalui pelatihan vokasi dan program kartu prakerja.
“Upaya kami tidak hanya pada penciptaan lapangan kerja, tapi juga peningkatan daya saing tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan industri saat ini,” tegas Ida.
Meski demikian, berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), tingkat pengangguran Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai 5 persen, tertinggi kedua di kawasan Asia setelah China. (*)







