Ilmu di Balik Tembok: Ketika Madrasah Berganti Menjadi Bursa

- Penulis

Rabu, 14 Mei 2025 - 07:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Mahmud Ihsan

i

Dr. Mahmud Ihsan

Bayangkan dua dunia yang sangat berbeda. Di satu sisi, kita melihat madrasah-madrasah di bawah naungan Khilafah Islamiyah, tempat para pelajar dari berbagai lapisan masyarakat, miskin maupun kaya berkumpul mencari ilmu. Tak ada uang pangkal. Tak ada cicilan semesteran. Ilmu adalah milik umat dan negara memfasilitasi penuh pengajarannya sebagai bentuk tanggung jawab syar’i. Di sisi lain, kita menyaksikan deretan kampus modern yang menjulang, lengkap dengan tarif masuk puluhan juta, iklan program unggulan, dan kalkulasi rasio keuntungan.

Dua dunia ini adalah simbol dari dua peradaban. Satu peradaban dibangun di atas ideologi aqidah Islam yang memuliakan ilmu, dan yang lain dibentuk oleh ideologi kapitalisme yang menakar ilmu dengan angka-angka nominal. Keduanya berdiri di atas nilai dan logika yang saling bertentangan.

Isu yang baru-baru ini mencuat mengenai penetapan uang pangkal hingga Rp 85 juta oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bagi mahasiswa jalur mandiri seolah menegaskan bahwa pendidikan tinggi hari ini bukan lagi jalan pencerahan, tetapi pintu masuk ke pasar elitisme. Meski dapat dicicil selama enam semester, faktanya tetap sama: ilmu telah dipagari, dan yang bisa masuk hanyalah mereka yang memiliki tiket emas bernama “daya beli”.

Madrasah dan Mall: Simbol Dua Arah Peradaban

Dulu, ketika Khilafah masih menapaki jejak sejarahnya, para ulama seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Khwarizmi tidak lahir dari sistem yang mengkomersialkan ilmu. Mereka tumbuh di lingkungan yang memuliakan akal dan menjamin hak belajar setiap individu. Negara menyediakan guru, kitab, tempat belajar, bahkan biaya hidup, agar pelajar tidak sibuk memikirkan nasib dompetnya di tengah pencarian hikmah. Madrasah Nizamiyah, Darul Hikmah di Baghdad, atau Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko menjadi simbol bahwa ilmu adalah amanah umat, bukan komoditas pasar.

Kini, pendidikan telah disulap menjadi mall. Kita masuk, memilih program studi seperti memilih barang, dan membayarnya dengan nominal yang tak semua orang sanggup. Pendidikan tinggi tidak lagi menjadi milik rakyat, tetapi milik mereka yang lulus seleksi finansial. Bahkan, ada jalur “mandiri” yang ironisnya justru paling bergantung pada kekuatan uang.

Baca Juga  150 Peserta MTQ V Korpri Masuk Final, Ini Daftarnya

Di Balik Angka, Ada Ideologi

Kebijakan semacam ini bukan sekadar keputusan teknis institusi, melainkan cermin dari sistem yang mengaturnya. Dalam sistem kapitalisme, negara tak lagi menjadi penanggung jawab penuh pendidikan. Ia menyerahkannya pada mekanisme pasar, atas nama “efisiensi” dan “kemandirian lembaga”. Padahal, ketika negara abai, rakyat kecillah yang harus menanggung akibatnya.

Sebaliknya, Islam memandang pendidikan sebagai kewajiban negara dan hak setiap individu. Islam menegaskan bahwa negara wajib menyediakan pendidikan dasar hingga tinggi secara gratis bagi seluruh warga, tanpa diskriminasi kelas sosial. Negara wajib mendidik umat agar memiliki tsaqafah Islamiyah dan ilmu kehidupan yang bermanfaat, bukan untuk dijadikan alat akumulasi kekayaan.

Ketika pendidikan diprivatisasi, maka yang lahir bukanlah pemikir yang membebaskan, tapi tenaga kerja yang siap dieksploitasi. Lulusan bukan lagi penerus peradaban, melainkan bagian dari rantai produksi ekonomi global. Ini adalah pergeseran nilai yang sangat mendasar.

Apa yang akan Kita Wariskan?

Kita patut merenung, generasi macam apa yang ingin kita wariskan bila ilmu terus dipagari angka? Apakah kita rela melihat anak-anak bangsa gagal kuliah bukan karena kurang cerdas, tetapi karena tak mampu membayar pintu masuknya?

Realitas ini menampar nurani kita. Kita telah menyaksikan pergeseran makna pendidikan dari amanah menjadi komoditas, dari cahaya menjadi angka.

Kembali ke Akar Peradaban

Saatnya umat menyadari bahwa sistem pendidikan hari ini adalah bayangan dari sistem yang menaunginya. Selama kita masih berada di bawah payung kapitalisme, pendidikan akan terus dikebiri oleh logika pasar. Ilmu akan tetap di balik tembok tinggi yang hanya bisa ditembus oleh uang, bukan kecerdasan atau niat luhur.

Solusinya bukan sekadar menurunkan uang pangkal, tapi mengembalikan fungsi pendidikan dalam kerangka sistem Islam. Hanya dengan tegaknya Khilafah, pendidikan akan kembali menjadi sarana mencetak generasi pemimpin dan ulama, bukan buruh intelektual.

Sudah saatnya kita perjuangkan kembalinya sistem Islam kaffah, agar madrasah-madrasah kembali dibuka, dan ilmu kembali menjadi cahaya yang menyinari seluruh umat—bukan hanya segelintir pemilik uang. (*)

Penulis: Dr. Mahmud Ihsan

(Pemerhati Pendidikan)

Facebook Comments

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BMKG: 22 Gempa di Sultra dalam Sepekan, Terbanyak di Koltim dan Konut
Basarnas Kendari Turunkan Tim SAR Cari Dua Mahasiswa UHO yang Tersesat di Hutan Konawe
Belajar dari Malang, PDAM Kendari Percepat Digitalisasi dan Reformasi Tata Kelola Layanan Air
MI Al-Istiqomah Kendari Raih Akreditasi A, Perkuat Pendidikan Islam Berbasis Karakter dan Digital
Basarnas Kendari Kirim Tim Bantu Pencarian Pesawat Hilang di Maros–Pangkep
Promo Januari 2026! Al-Munawwir Buka Kelas Berkuda & Panahan
Al-Munawwir Stable & Archery Reborn Gelar Pelatihan Dasar Berkuda di Kendari
Perjuangan Ojol Perempuan di Kolaka, Menghidupi Keluarga dari Jalanan

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 11:19 WITA

BMKG: 22 Gempa di Sultra dalam Sepekan, Terbanyak di Koltim dan Konut

Rabu, 28 Januari 2026 - 09:00 WITA

Basarnas Kendari Turunkan Tim SAR Cari Dua Mahasiswa UHO yang Tersesat di Hutan Konawe

Selasa, 27 Januari 2026 - 20:32 WITA

Belajar dari Malang, PDAM Kendari Percepat Digitalisasi dan Reformasi Tata Kelola Layanan Air

Selasa, 27 Januari 2026 - 14:49 WITA

MI Al-Istiqomah Kendari Raih Akreditasi A, Perkuat Pendidikan Islam Berbasis Karakter dan Digital

Kamis, 22 Januari 2026 - 14:34 WITA

Basarnas Kendari Kirim Tim Bantu Pencarian Pesawat Hilang di Maros–Pangkep

Berita Terbaru