Kendari, Panjikendari.com – Aktivitas kegempaan di wilayah Sulawesi Tenggara, khususnya di Kabupaten Kolaka Timur, mulai menunjukkan tren penurunan sepanjang Maret 2025. Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Kendari tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah.
Kepala Stasiun Geofisika Kendari, Rudin, S.T., M.Geo., menyampaikan bahwa sepanjang bulan Maret, pihaknya mencatat sebanyak 347 kejadian gempa bumi yang terekam oleh sistem SEISCOMP4. Sebagian besar gempa memiliki kekuatan kecil di bawah magnitudo 3,0. Sementara itu, gempa dengan magnitudo 3,0 hingga 5,0 tercatat sebanyak 77 kejadian, dan 11 kejadian lainnya berkekuatan di atas magnitudo 5,0.
“Penurunan jumlah gempa ini cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan menurunnya aktivitas kegempaan di wilayah Kolaka Timur, terutama di Kecamatan Lalolae yang sempat menjadi pusat gempa susulan sejak Januari,” kata Rudin dalam keterangan tertulis yang dirilis pada 9 April 2025.
Sepanjang Maret, terdapat 11 gempa yang dirasakan masyarakat. Delapan di antaranya mengguncang wilayah Kolaka Timur, masing-masing terjadi pada tanggal 2, 8, 11, 15, 18, 20, 21, dan 31 Maret. Guncangan yang dirasakan berada pada kisaran intensitas II hingga III MMI. Selain itu, gempa juga dirasakan di Watubangga (Kolaka), Soropia (Konawe), serta Ranomeeto Barat (Konawe Selatan).
Data dari BPBD menunjukkan dampak dari rangkaian gempa cukup merata di sejumlah kecamatan di Kolaka Timur. Sebanyak 188 unit rumah mengalami kerusakan, termasuk 3 rumah rusak berat dan sisanya rusak ringan hingga sedang. Gempa juga merusak 3 rumah ibadah, 5 fasilitas kesehatan, 9 gedung pemerintahan, serta 26 unit bangunan sarana pendidikan.
Rudin menambahkan, analisis peluruhan gempa berdasarkan beberapa model — seperti Omori, Mogi 1, Mogi 2, dan Utsu — menunjukkan bahwa gempa susulan secara bertahap mereda. Estimasi waktu berakhirnya aktivitas gempa berkisar antara awal hingga akhir Maret, tergantung pendekatan model yang digunakan.
“Model Omori misalnya, memprediksi gempa susulan akan mereda pada 11 Maret. Sementara model lain seperti Mogi 1 dan Utsu memperkirakan aktivitas selesai sekitar tanggal 24 Maret,” jelasnya.
Meski tren menunjukkan penurunan, Rudin tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. “Gempa bumi hingga kini masih belum bisa diprediksi secara pasti, baik waktu maupun lokasinya. Karena itu, kesiapsiagaan tetap diperlukan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penataan ruang di dalam rumah dan bangunan publik agar tidak menimbulkan bahaya sekunder saat terjadi guncangan. “Penempatan barang yang tidak aman bisa menjadi ancaman saat terjadi gempa, walaupun intensitasnya rendah,” tambahnya. (*)






