Panjikendari.com – Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menegaskan komitmennya terhadap pengembangan pertanian berkelanjutan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Internal Fakultas yang dilaksanakan di Desa Bea, Kecamatan Kabawo, Kabupaten Muna, Ahad, 14 September 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh 20 orang petani dan dihadiri langsung oleh Kepala Desa Bea, La Sania, yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan kapasitas petani di wilayahnya.
Tim dosen dari Fakultas Pertanian UHO tampil langsung memberikan materi sekaligus pelatihan praktis. Narasumber utama adalah Dr. Zulfikar, S.P., M.P. dari Jurusan Ilmu Tanah dan Dr. Abdi, S.P., M.P. dari Jurusan Agribisnis. Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari akademisi lainnya, yakni Prof. Andi Bahrun, S.P., M.P. dari Jurusan Agroteknologi serta Dr. Dhian Herdiansyah, S.P., M.P. dari Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan.
Dalam kesempatan ini, tim memperkenalkan inovasi tumpangsari jagung–nilam sebagai strategi baru untuk menjawab tantangan pertanian di Desa Bea. Selama ini mayoritas petani masih mengandalkan sistem ladang berpindah yang berisiko menurunkan kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Sementara itu, jagung lokal sebagai komoditas utama sebagian besar hanya dipasarkan dalam bentuk jagung muda dengan nilai jual yang terbatas. Melalui sistem tumpangsari, jagung dipilih karena mampu memberikan pendapatan cepat dalam tiga hingga empat bulan, sementara nilam atau Pogostemon cablin sebagai tanaman penghasil minyak atsiri bernilai ekspor tinggi dapat memberikan pendapatan berulang hingga dua sampai tiga tahun. Kombinasi ini memberikan keuntungan ganda bagi petani, yakni memperoleh penghasilan jangka pendek sekaligus jangka panjang dalam satu pola tanam.
Selain penyampaian teori, kegiatan ini juga menghadirkan pelatihan pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan sisa panen jagung. Para petani diajarkan cara mengolah limbah pertanian menjadi kompos atau bokashi yang mampu memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, sekaligus menekan biaya produksi. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dan memperkuat praktik pertanian yang ramah lingkungan.
Kepala Desa Bea, La Sania, menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan ini dan berharap agar para petani dapat segera mengadopsi pola tumpangsari jagung–nilam. Ia menilai pola ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lahan pertanian. Sementara itu, Dr. Zulfikar menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengubah pola ladang berpindah menjadi ladang menetap berbasis konservasi sehingga petani tidak hanya memperoleh peningkatan pendapatan, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Pertanian UHO menunjukkan kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di Sulawesi Tenggara. Desa Bea diharapkan dapat menjadi desa percontohan penerapan tumpangsari jagung–nilam sekaligus inspirasi bagi desa-desa lain dalam mengembangkan sistem pertanian yang inovatif, mandiri, dan berwawasan lingkungan. (*)








