Kita Umat Terbaik, Tapi Kenapa Cuma Jadi Pembebek?

- Penulis

Sabtu, 17 Mei 2025 - 17:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang dilanda ketegangan geopolitik, umat Islam sejatinya memiliki modal besar untuk tampil sebagai kekuatan alternatif global. Dengan jumlah lebih dari 1,9 miliar jiwa, kekayaan sumber daya alam, posisi strategis secara geografis, dan warisan sejarah kepemimpinan dunia, umat ini diberi julukan sebagai “khairu ummah”, umat terbaik yang dilahirkan untuk memimpin manusia kepada kebaikan dan keadilan.

Namun realitasnya hari ini justru berkebalikan. Ketika dunia disibukkan dengan rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, yang menjelma menjadi perang dagang, adu pengaruh teknologi, hingga gesekan diplomatik, dunia Islam justru tak tampak mengambil posisi strategis. Negeri-negeri Muslim cenderung bersikap reaktif, diam, atau mengikuti arah kebijakan dari kekuatan adidaya. Peran sebagai pengikut alias “pembebek” lebih menonjol daripada peran sebagai penentu arah dunia.

Padahal dalam situasi seperti inilah seharusnya umat Islam tampil sebagai penengah dan penentu. Dunia kini haus akan keadilan, stabilitas, dan kepemimpinan moral. Ketika blok Barat dan Timur terus bersaing dalam logika kapitalistik dan hegemonik, dunia Islam bisa menawarkan visi alternatif berbasis nilai-nilai Islam dengan kepemimpinan yang adil, distribusi kekayaan yang merata, dan harmoni antarbangsa.

Sayangnya, potensi besar ini tercerai-berai dalam sekat-sekat nasionalisme sempit. Tiap negeri Muslim berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu visi besar. Tak ada koordinasi politik global di antara mereka, bahkan dalam isu-isu krusial seperti penjajahan atas Palestina, konflik di Sudan, atau perlakuan terhadap Muslim Uighur. Dunia Islam tidak hanya kehilangan kemandirian politik, tetapi juga kehilangan keberanian untuk bersikap.

Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan struktural terhadap Barat dan Timur. Banyak negara Muslim yang bergantung secara ekonomi kepada AS atau China. Di sisi lain, elit politik mereka enggan membebaskan diri dari sistem internasional yang mengekang. Akibatnya, suara politik Islam tenggelam dalam arus kepentingan global.

Situasi ini tentu menuntut evaluasi mendalam. Sebagai umat yang dimuliakan dengan misi risalah, kita tidak bisa terus-menerus berada di posisi pasif. Ketika para sahabat Nabi dahulu disebut sebagai “pemimpin umat”, itu bukan karena jumlah mereka, tapi karena visi dan keberanian mereka untuk memimpin dunia.

Baca Juga  transcosmos Indonesia dan Dapur Umami Optimalkan Customer Engagement melalui Teknologi CDP dan CEP

Untuk itu, kita perlu melakukan dua hal penting :

Pertama, membangun kembali kesadaran ideologis umat Islam bahwa Islam bukan hanya agama spiritual, tapi sistem hidup yang lengkap. Islam memiliki konsep tentang kepemimpinan, sistem ekonomi, sosial, hingga hubungan internasional. Selama umat Islam hanya memahami Islam sebatas ibadah ritual, maka perannya dalam geopolitik global akan tetap marjinal.

Kedua, dunia Islam harus kembali memiliki institusi pemersatu politik global: Khilafah Islamiyah. Institusi ini bukan sekadar simbol, melainkan instrumen riil untuk menyatukan potensi dan menentukan arah kebijakan internasional. Tanpa struktur politik bersama, umat Islam akan terus jadi pengikut blok kekuatan asing.

Langkah ini bukan utopia. Sejarah mencatat bagaimana peradaban Islam pernah menjadi mercusuar dunia. Khilafah Utsmaniyah, meski dengan segala keterbatasannya di akhir masa, tetap menjadi kekuatan dunia hingga awal abad ke-20. Maka bukan mustahil dunia Islam bangkit kembali asal ada kemauan kolektif untuk bergerak.

Kini, di tengah dunia yang terus mencari arah baru, umat Islam harus menjawab panggilan sejarahnya. Jika tidak, maka gelar “khairu ummah” hanya akan tinggal slogan tanpa makna. Dunia Islam akan terus menjadi pasar, bukan pemain. Menjadi objek, bukan subjek. Menjadi pembebek, bukan pemimpin.

Sudah saatnya kita berhenti puas sebagai penonton. Mari bangkit, berpikir besar, dan bersatu dalam visi perubahan global. Dunia tidak akan menunggu kita siap. Tapi sejarah telah membuktikan ketika umat ini bersatu dalam akidah dan visi Islam, dunia pun akan bergerak mengikuti langkahnya. (*)

Penulis: Dr. La Ode Mahmud, M.Si

(Pemerhati isu sosial-politik Islam dan aktif dalam kajian pemikiran keislaman serta menulis opini dan esai yang mengkritisi dinamika sosial dalam perspektif Islam ideologis)

Facebook Comments

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nelayan Menui Hilang Kontak di Perairan Morowali Ditemukan Selamat
Urundana Petani Milenial Diminati Diaspora, Peserta dari Luar Negeri Siap Ikuti Webinar Internasional
Menghidupkan Kembali Jejak Peradaban: Penguatan Hubungan Budaya Indonesia–India di New Delhi
Respons Humanis Holding Perkebunan Nusantara: PalmCo Pastikan Perlindungan dan Pendampingan bagi Korban Longsor
KAI Catat Peningkatan Pengguna LRT Jabodebek pada 2 Desember 2025
KAI Daop 8 Surabaya Lakukan Perbaikan Perlintasan Sebidang JPL 36 Jalan Deltasari, Pengendara Diimbau Antisipasi
Dukung Inklusi Keuangan Berkelanjutan, BRI Finance Hadirkan Promo di Pasar Keuangan Rakyat di Medan
Fakultas Pertanian Gelar Bimtek Pupuk Organik Diperkaya Agens Hayati Indigenos di Desa Lasalepa

Berita Terkait

Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:14 WITA

Nelayan Menui Hilang Kontak di Perairan Morowali Ditemukan Selamat

Selasa, 23 Desember 2025 - 18:36 WITA

Urundana Petani Milenial Diminati Diaspora, Peserta dari Luar Negeri Siap Ikuti Webinar Internasional

Rabu, 17 Desember 2025 - 09:50 WITA

Menghidupkan Kembali Jejak Peradaban: Penguatan Hubungan Budaya Indonesia–India di New Delhi

Jumat, 12 Desember 2025 - 14:46 WITA

Respons Humanis Holding Perkebunan Nusantara: PalmCo Pastikan Perlindungan dan Pendampingan bagi Korban Longsor

Selasa, 9 Desember 2025 - 05:16 WITA

KAI Catat Peningkatan Pengguna LRT Jabodebek pada 2 Desember 2025

Berita Terbaru