Sarjana Menganggur, Salah Siapa? Ini Kata Pengamat Ketenagakerjaan

- Penulis

Kamis, 29 Mei 2025 - 07:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Ijazah sudah di tangan, toga sudah dikenakan, tapi pekerjaan tak kunjung datang. Inilah kenyataan getir yang dihadapi sebagian lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru per Februari 2025 mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk lulusan universitas mencapai 5,25 persen, lebih tinggi dari lulusan diploma yang berada di angka 4,83 persen.

Tak hanya itu, tingkat setengah pengangguran umum juga tercatat cukup signifikan, yakni 5,03 persen, di mana lulusan diploma menyumbang 4,01 persen.

Angka-angka ini menjadi sinyal bahwa ada yang belum nyambung antara dunia pendidikan dan realita pasar kerja.

Ijazah Saja Tak Cukup

Menurut Timboel Siregar, pengamat ketenagakerjaan, ketimpangan ini terjadi karena dunia pendidikan tinggi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan dunia industri yang terus bergerak dinamis.

“Pendidikan tinggi kita terlalu fokus pada pengetahuan, padahal yang dibutuhkan dunia kerja itu keterampilan dan sertifikasi pendukung,” ujar Timboel, Selasa, 27 Mei 2025, seperti dikutip dari liputan6.com.

Ia mencontohkan, lulusan ilmu komunikasi semestinya tidak hanya paham teori komunikasi, tetapi juga menguasai teknologi komunikasi modern dan mampu berbahasa asing. Tanpa itu, ijazah tak ubahnya selembar kertas tanpa daya saing.

“Gelar akademik penting, iya. Tapi tidak bisa berdiri sendiri. Harus disertai keterampilan dan sertifikasi. Itu yang bikin lulusan jadi ‘laku’,” tegasnya.

Kurikulum Wajib Diracik Ulang

Tak hanya mahasiswa yang dituntut berbenah, institusi pendidikan pun perlu mengatur ulang resep mereka. Menurut Timboel, beberapa mata kuliah umum seperti Pancasila dan agama, meski penting, porsinya bisa dikurangi untuk memberi ruang lebih pada pelajaran keterampilan praktis dan literasi digital.

“Ini bukan soal meniadakan, tapi menyeimbangkan. Dunia kerja butuh tenaga yang siap, bukan sekadar tahu,” katanya.

Baca Juga  Evista, Taksi Online Listrik Pertama di Indonesia Jadi Primadona

Timboel juga mengingatkan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia kini lebih padat modal dan teknologi. Artinya, pekerjaan yang tercipta lebih sedikit, dan yang dibutuhkan pun bukan sekadar pekerja, melainkan pekerja terampil yang siap menghadapi dunia digital.

Solusinya? Kolaborasi dan Pelatihan Nyata

Dalam jangka pendek, pemerintah disarankan lebih aktif menyelenggarakan pelatihan keterampilan kerja, terutama bagi lulusan yang belum siap kerja. Perguruan tinggi juga dituntut menjalin kemitraan nyata dengan industri—lewat job fair, magang, hingga penyelarasan kurikulum.

“Kalau tak segera dibenahi, perguruan tinggi kita justru akan terus memproduksi pengangguran terdidik,” tegas Timboel.

Menurutnya, ini sudah masuk kategori perangkap struktural. Sebab banyak lulusan yang sebenarnya potensial, tapi tak tersalurkan karena ketidakcocokan antara ilmu yang didapat dan kebutuhan pasar. (*)

Facebook Comments

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel panjikendari.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seleksi Ketat PT Tiran Indonesia Hasilkan 38 Tenaga Kerja Terbaik di Konawe Utara
BMKG: 22 Gempa di Sultra dalam Sepekan, Terbanyak di Koltim dan Konut
Pemprov Sultra Perkuat Kebijakan Berbasis Data, Dukung Sensus Ekonomi 2026
Tiran Nusantara Grup Gelar Tiranovation Challenge 2026, Lahirkan Inovasi Karyawan Berbasis Solusi
VinFast Tancapkan Langkah Global, Bidik Lima Negara untuk Ekspansi Skuter Listrik
Puluhan Driver Maxim Kendari Gelar Donor Darah untuk Perkuat Stok PMI Sultra
Basarnas Kendari Turunkan Tim SAR Cari Dua Mahasiswa UHO yang Tersesat di Hutan Konawe
Belajar dari Malang, PDAM Kendari Percepat Digitalisasi dan Reformasi Tata Kelola Layanan Air

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 08:15 WITA

Seleksi Ketat PT Tiran Indonesia Hasilkan 38 Tenaga Kerja Terbaik di Konawe Utara

Jumat, 3 April 2026 - 11:19 WITA

BMKG: 22 Gempa di Sultra dalam Sepekan, Terbanyak di Koltim dan Konut

Rabu, 1 April 2026 - 21:33 WITA

Pemprov Sultra Perkuat Kebijakan Berbasis Data, Dukung Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 31 Maret 2026 - 18:00 WITA

Tiran Nusantara Grup Gelar Tiranovation Challenge 2026, Lahirkan Inovasi Karyawan Berbasis Solusi

Selasa, 3 Februari 2026 - 13:57 WITA

VinFast Tancapkan Langkah Global, Bidik Lima Negara untuk Ekspansi Skuter Listrik

Berita Terbaru