EKOBIS

Seroja Merah Belajar Pengembangan Ekonomi Kreatif dari Pameran Karya Ikkon Bekraf di Wakatobi

Seroja Merah Watopute Kabupaten Muna
80

panjikendari.com – Semangat Remaja Merangkai Alam Hayat (Seroja Merah), sebuah komunitas kreatif di Kecamatan Watopute, Kabupaten Muna, merasa beruntung diundang menghadiri pameran karya kreatif di Wakatobi baru-baru ini.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif RI berlangsung pada tanggal 6 hingga 8 Oktober 2018,.di Desa Kahianga Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan itu merupakan karya kolaboratif antara pelaku kreatif lokal Kabupaten Wakatobi dan tim Ikkon (inovatif dan kreatif melalui Kolaborasi Nusantara).

Komunitas Seroja merah dihadiri langsung oleh direktur eksekutifnya, Aswat Hanafi. Ia menyatakan sangat terinspirasi dan banyak belajar dari penyenggaraan pameran karya tersebut.

Menurut dia, potensi Kabupaten Muna sebenarnya tidak kalah dengan Kabupaten Wakatobi, sehingga hal serupa dirasakan mampu untuk dilaksanakan juga oleh berbagai pelaku kreatif di Kabupaten Muna.

“Akan tetapi diperlukan pendampingan dan perhatian secara serius oleh pemerintah daerah,” kata Aswat.

Pelaku kreatif selama ini, kata Aswat, masih kurang mendapatkan perhatian oleh pemerintah sehingga perkembangannya masih kurang optimal dalam mendukung perkembangan pariwisata, sebagai sektor yang berkorelasi langsung.

Aswat menceritakan, pameran kreatif di Wakatobi baru-baru merupakan kegiatan puncak dari tim Ikkon 2018 Wakatobi sebagai bagian dari upaya Bekraf dan Pemda Wakatobi untuk mengembangkan kualitas produk ekonomi kreatif, serta meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pelaku kreatif serta menumbuhkembangkan jaringan kolektif pelaku ekonomi kreatif.

Pameran karya bertajuk Kreatifemba (kreatif dari bambu) tersebut dilaksanakan dengan mengusung tema “lokalitas, kreatifitas, kolaborasi” dengan menghadirkan hutan bambu sebagai media/lokasi pameran.

Dibuka oleh Wakil Ketua Badan Ekonomi Kreatif RI, Riky Pesik, didampingi Bupati Wakatobi H Arhawi SE serta segenap jajaran muspida Kabupaten Wakatobi.

Seorang Antropolog dari Tim Ikkond2018 Bekraf RI, Munanta, menyampaikan, ada tiga hal menjadi aspek kunci pengembangan ekonomi kreatif.

Pertama; ide lokalitas, yang mengacu pada perlunya untuk mengangkat kearifan dan potensi lokal sebagai sumber inspirasi dan ide dalam mengusung karya. Kedua; proses kreatifitas dan kolaborasi, merupakan proses yang secara sadar dan kolektif harus dilakukan oleh tiap pelaku kreatif dalam berkarya.

Ketiga; ide kreatif, akan selalu bersumber dari lingkungan sekitar, dan tak jarang berasal dari masalah yang kita hadapi, dan tentu harus dikerjakan secara kolaboratif dan kolektif antara masyarakat, dan pelaku kreatif.

Munanta menjelaskan, keunikan budaya dan kearifan lokal yang masih tetap terjaga pada masyarakat Wakatobi menjadi gagasan utama dalam penyusunan ide desain dan inovasi pengembangan produk antara Ikkon dan pelaku kreatif Kabupaten Wakatobi.

Makanya, dalam kegiatan tersebut dipamerkan berbagai produk, diantaranya produk dari anyaman bambu Desa Kahiyanga Tomia, produk fashion dari kain tenun khas daerah dari Kelurahan Waha Tomia, Parang Sowa dari Desa Sowa Binongko, Dokumentasi dan Pameran Fotografi Desa Tenun Pajam Kaledupa, Hedongka Project dari Komunitas Katutura Desa Kulati Tomia, serta kolaborasi Sanggar Tari Puncak Tindoi Wangi-Wangi dan kontemporasi tarian khas Sajomoane bersama La Ode Dulu Desa Usuku.

Penulis: Ali Zahal
Editor : Sarfiayanti

Beri Komentar
Loading...

Terpopuler

Panji Kendari merupakan media online yang mengabarkan peristiwa terkini di jazirah Sulawesi Tenggara dengan mengedepankan potensi daerah, potensi wisata, dan kejadian-kejadian untuk para pembaca.

STATISTIK WEB

Facebook

To Top
error: Content is protected !!