panjikendari.comPemilu serentak kali ini dengan komposisi lima kertas suara yang diakui paling rumit sedunia, memaksa KPU Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, untuk bekerja ekstra melakukan sosialisasi ke berbagai segmen.

Segmen basis perempuan menjadi salah satu sasaran sosialisasi KPU Kota Kendari dalam rangka memberikan pemahaman tentang Pemilu yang akan digelar 17 April 2019 nanti, terutama perempuan yang masuk dalam kategori pemilih pemula.

Apalagi, berdasarkan DPT yang ditetapkan pada Desember 2018 lalu, jumlah pemilih di Kota Kendari lebih banyak perempuan dibanding laki-laki. Sedangkan untuk kategori pemilih pemula, jumlahnya lumayan tinggi secara Sulawesi Tenggara, yakni mencapai 37,2 persen.

Atas pertimbangan itu, Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Wilayah Sultra bekerjasama dengan KPU Kota Kendari menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Kepemiluan: Spirit Pemilih Pemula Perempuan pada Pemilu 2019 di Kota Kendari, Jumat, 15 Februari 2019.

Kegiatan yang dilangsungkan di salah satu warung kopi Kota Kendari itu dihadiri oleh para ABG (Anak Baru Gede) atau remaja putri dari beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan beberapa mahasiswa yang masih tergolong sebagai pemilih pemula.

Hadir sebagai narasumber Ketua KPU Kota Kendari Jumwal Shaleh, Kordiv Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat KPU Kota Kendari Asril, Peneliti Pusat Studi Gender dan Perlindungan Anak Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari Hj Sartiah Yusran, dan Ketua KIPP Sultra Muhammad Nasir.

Ketua KPU Kota Kendari Jumwal Shaleh dalam pemaparannya menyampaikan, rasio pemilih perempuan dan laki-laki di Kota Kendari didominasi oleh perempuan.

Menurutnya, berdasarkan DPTHP-2, dari total 208.846 pemilih di Kota Kendari, 105.787 diantaranya adalah perempuan. Lebih banyak dibanding laki-laki yang hanya mencapai 103.069 pemilih. “Peserta pemilu memiliki potensi untuk meraup suara lebih banyak dari pemilih perempuan,” ujarnya.

Olehnya itu, Jumwal mengatakan, KPU Kota Kendari menjadikan basis perempuan menjadi fokus sosialisasi terutama pemilih pemula perempuan. Ia berharap, pemilih pemula dapat menjadi agen yang dapat membantu menyebarluaskan informasi Pemilu.

Pada kesempatan itu, Jumwal menyampaikan terima kasihnya kepada KIPP Sultra yang telah menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Pemilu, karena dia menyadari bahwa suksesnya penyelenggaraan Pemilu tidak hanya menjadi tanggung jawab peyelenggara tetapi tanggungjawab semua stakecholder.

Senada dengan Jumwal, Kordiv Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat KPU Kota Kendari, Asril, menambahkan, kegiatan sosialisasi seperti ini sangat penting untuk memberikan informasi tentang Pemilu kepada pemilih pemula perempuan.

Selain itu, kata dia, melalui kegiatan ini para pemilih pemula perempuan diberikan pendidikan Pemilu 2019 yang perlakuannya sangat berbeda dengan Pemilu sebelumnya.

Dimana pada Pemilu 2019 ini dilaksanakan lima pemilihan sekaligus, yakni, pemilihan calon presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. “Hal-hal inilah yang selalu disampaikan kepada warga masyarakat terutama pemilih pemula supaya tidak bingung setelah tiba di TPS nanti,” katanya.

Sementara itu, peneliti Pusat Studi Gender dan Perlindungan Anak UHO Kendari, Hj Sartiah Yusran, regulasi atau peraturan perundang-undangan memberikan posisi istimewa bagi perempuan dalam proses pengambilan kebijakan.

Syarat kuota keterwakilan perempuan, kata dia, mestinya menjadi sesuatu hal yang dapat mendorong perempuan untuk berpartisipasi dalam Pemilu. “Dengan kebijakan yang ada sekarang ini, tidak ada alasan bagi perempuan untuk golput.

“Perempuan harus berpartisipasi sebab di dalam proses pengambilan kebijakan, kalau tidak ada perempeuan tidak mungkin akan terwakili atau memikirkan masalah perempuan dan anak,” katanya.

Menurutnya, kegiatan sosilaisasi pemilu kali ini merangkum remaja-remaja putri untuk memberikan kesan bahwa pemilih pemula itu harus cerdas. “Mengajarkan perempuan menjadi cerdas, jangan ada golput karena satu suara itu sangat penting,” tambahnya.

Ketua KIPP Sultra Muhammad Nasir, pemilih pemula menjadi sasaran sosialisasi karena mereka memiliki potensi yang besar untuk menentukan siapa pemimpin kita kedepan. “Kita ingin mengajak pmilih pemula untuk tidak hanya menjadi pemilh cerdas tapi juga mengawasi proses pemilihan,” katanya. (jie)

Beri Komentar